oleh

Pandangan Indonesia Bubar 2030 Hendaknya Jadi Renungan dan Kajian Bersama

Ketum Gerindra Prabowo Subianto pernah bicara tentang ‘Indonesia bubar tahun 2030’ dalam acara di kampus Universitas Indonesia (UI). Pada acara tersebut, Prabowo menunjukkan novel berjudul ‘Ghost Fleet’, yang menjadi rujukannya dalam menyampaikan hal itu.

“Ghost Fleet’ ini novel, tapi ditulis 2 ahli strategi dari Amerika, menggambarkan sebuah skenario perang antara China dan Amerika tahun 2030. Yang menarik dari sini bagi kita hanya 1. Mereka ramalkan tahun 2030, Republik Indonesia sudah tidak ada lagi,” kata Prabowo dalam video yang diunggah akun Gerindra TV di YouTube, yang kemudian menjadi viral karena dinilai kontroversi.

Melihat kondisi ini, pengamat sosial politik yang juga Rektor Universitas Achmad Yani (Uvaya) Kota Banjarmasin Rektor DR Ir Hastirullah Fitrah MP menilai, lontaran Ketua Partai Gerindra Prabowo Indonesia, Indonesia akan bubar 2030, hal itu bukan menyalahkan siapa-siapa, hanya memberikan gambaran dari hasil pandangan penulis buku AS.

“Jika kondisinya seperti ini, misalnya Indonesia selalu bergantung kepada hutang luar negeri untuk membangun. Maka kekuatiran Prabowo bisa jadi akan terbukti, untuk itu semua pihak hendaknya menilai pandaangan Indodnesia bisa bubar tahun 2030 hendaknya dijadikan renungan bersama dan introspeksi,” ujarnya, Sabtu (24/03/2018).

Kondisi saat ini, kata Hastirulah, sangat berbeda dengan era Presiden Sukarno melihat Indonesia masih memiliki potensi dari SDA yang melimpah ruah, begitupun ketika di era Presiden Suharto. Ada hasil SDA yang bisa digunakan untuk membayar hutang luar negerinya, misalnya dari sektor pertanian serta sektor lainnya.

“Baik era Presiden Sukarno dan era Presiden Suharto pengembalian hutangnya jelas ada program jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Tapi di era Presiden Joko Widodo kami nilai, pengembalian hutangnya dilakukan semau gue,” ujarnya.

Hastirulah menilai, kajian orang barat itu dibuat tentu tak main-main dan asal tulis, tapi berdasarkan pengamatan ada data, kalkulasi yang mendalam. Untuk itu, dalam melihat pandangan penulis tersebut pemerintahan saat ini jangan kebakaran jenggot, hendaknya dijadikan warning makin merekatkan persatuan dan kesatuan.

“Jangan kita dibangunkan oleh matahari, tapi kitalah yang membangunkan matahari,” katanya.

Hastirulah melihat, guna menyudahi pertikaian yang kurang baik bagi perkembangan Indonesia kedepan semua pihak hendaknya saling menjaga diri dan tak saling menyalahkan.

“Sebaiknya Presiden Joko Widodo, bisa mengundang para tokoh negarawan seperti Amien Rais dan Prabowo, duduk satu meja diundang makan siang bersama. Silahturahmi nasional memecahkan problem bangsa, kami nilai akan clear, suasana makin sejuk dan kondusif,” paparnya.

yus/dil