oleh

Oknum Guru SD Banjarbaru Cabuli Anak Muridnya Sendiri

Polisi menetapkan tersangka KH seorang oknum guru wali kelas lima SDN di Kota Banjarbaru, pelaku pencabulan anak dibawah umur, atas laporan dua orang korban yang bernama MAH(12) dan HZ (13), telah terjadi tindak pencabulan anak dibawah umur dengan cara lewat ancaman memaksa anak tersebut dimana kemaluannya dipegang di onani sampai keluar spermanya.

Hal tersebut diungkapkan Kapolda Kalsel, Brigjen Pol Rachmat Mulyana dalam jumpa pers, Selasa (8/5/2018), kejadian berawal tanggal 16 April 2018 atas tindakan pencabulan dua anak memberanikan diri melaporkan ke Polres Kota Banjarbaru, kemudian dilakukan penyelidikan. Tersangka yang sempat melarikan diri dan ditangkap hari Senin di Kalimantan Barat. Dari hasil interogasi, ternyata tersangka sudah melakukan aksi bejatnya ini sudah lebih 20 kali terhadap anak-anak dibawah umur. Latar belakang dari tersangka memiliki istri, namun selama menikah tak pernah melakukan istrinya layaknya pasangan rumah tangga pada umumnya.

“Tersangka lebih suka kepada anak-anak dibawah umur yang semuany laki-laki, tersangka kemungkinan penganut LGBT,” sebut Kapolda.

Dijelaskan Kapolda, atas tindakan pencabulan tersangka dijerat dengan Pasal 82 ayat 2 tentang Undang-Undang Perlindungan Anak, yang disebutkan bahwa barang siapa melakukan ancaman, bujuk rayu, intimidasi, untuk melakukan perbuatan cabul. Diancam dengan hukuman penjara paling singkat lima tahun dan paling lama 15 tahun.

‘Karena tersangka adalah seorang guru, maka ancaman hukumannya ditambah sepertiga. Tindakan terssebut dilakukan sejak tahun 2012 hingga 2018. Modus pelaku, pura-pura memberikan les kepada anak didiknya atau mengancam memberikan nilai jelek dan bahkan ancaman tak dinaikkan kelas. Jika keinginannya ditolak. Tersangka sering mengajak murid-murdnya yang disasar untuk mengikuti les privat di rumahnya,” ungkap Kapolda.

Sementara Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru, Rahmah Khairita menjelaskan bahwa saat ini tersangka masih dalam proses pemberhentian sementara, menunggu sidang pengadilan. Pihaknya baru mengetahui kejadian itu tanggal 10, tanggal 11 kemudian kami panggil tanggal 12 langsung kami tarik ternyata langsung kabur tersangka.

“Selama jadi guru menurut laporan yang kami terima dari kepala sekolah dia sangat baik. Aktif di sekolah, jadi tidak ada indikasi seperti itu tidak tahu,” katanya.

Dikatakan Rahmah, untuk anaknya akan dilakukan pendampingan pemulihan bekerjasama dengan berbagai pihak dengan psikolog. Sedangkan untuk tersangka secara pidana kami serahkan ke polisi, dan secara administrasi kepegawaian kami sudah turunkan ekspektorat untuk kepegawaian.

ida/inf

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed