oleh

Terorisme Wujud Ketidakpuasan Kebencian dan Fanatisme

Kotabaru,Info Banua.Belum lama ini terjadi peristiwa meledaknya sebuah bom sebanyak tiga kali dirumah kontrakan di Jawa Timur yang menyebabkan seorang anak berusia 6 tahun mengalami luka serius. Sedangkan pemilik bom adalah ayah kandung dari anak yang menjadi korban ledakan tersebut, ungkap Drs. H. Sjachrani Mataja, MM., MBA pada saat menggelar acara Sosialisasi 4 (Empat) Pilar Kebangsaan yang merupakan program rutin MPR RI,di Desa Semayap,Kecamatan Pulau Laut Timut,Selasa (5/6/2018).

Terorisme, lanjut Sjachrani Mataja, merupakan suatu tindakan kejahatan yang luar biasa extraordinary crimes yang dapat memecah perdamaian dan kesatuan serta persatuan.

Disisi lain, aksi teror yang dilakukan oleh jaringan terorisme yang perlu diwaspadai adalah penyebarluasan informasi yang menyesatlkan melalui internet dan jejaring sosial karena dapat menimbulkan degradasi moral bagi anak-anak kita para generasi muda yang secara berkelanjutan dijejali oleh informasi kebencian-kebencian terhadap kelompok tertentu, pemerintah dan sebagainya.

Menurutnya pengawasan dan pengaturan penggunaan internet oleh pemerintah, sambungnya, masih belum cukup untuk menekan penyebarluasan informasi melalui internet dan/atau jejaring sosial sehingga butuh pula adanya bantuan dari masyarakat terutama para orangtua dalam mengawasi anak-anaknya menggunakan internet termasuk media sosial.

Perlu dipahami dengan tingkat kemiskinan yang masih tinggi di negara kita ini, kondisi ini paling mudah disusupi oleh agenda-agenda terselubung yang mengatasnamakan agama atau sebagainya dengan menjanjikan sesuatu kepada seseorang agar dapat ikut bergabung dalam kelompok/organisasi yang ternyata berafiliasi dengan jaringan kelompok terorisme internasional, jelasnya.

Tindakan terorisme tidak selalu erat kaitannya dengan kebencian terhadap suatu kelompok melainkan juga dapat disebabkan karena rasa ketidakpuasan terhadap pemerintah yang kebijakan-kebijakannya dinilai tidak adil dan memihak kepada masyarakat kecil. Ada pula aksi teror disebabkan oleh adanya doktrinasi paham suatu agama yang berlebihan dan menyesatkan dalil-dalinya sehingga menimbulkan fanatisme yang tinggi sehingga mendorong seoeorang untuk melancarkan serangan teror dengan mengatasnamakan kehendak Tuhan dan dijamin akan masuk syurga.

Untuk itu, Sjachrani Mataja menegaskan, melalui pendalaman pemahaman dan penghayatan agama dan nilai-nilai luhur budaya bangsa seperti yang tertuang dan termaktub dalam empat pilar kebangsaan dapat membentuk mentalitas dan karakter generasi penerus nanti untuk bisa membedakan propaganda yang menyesatkan dan jeli menilai adanya agenda terselubung dalam suatu informasi yang tersebar luas melalui internet dan/atau jejaring sosial serta mereka nantinya juga tidak mudah terjerumus oleh bujuk rayu dan godaan yang menyesatkan mereka pada pergaulan yang eksklusif dan memiliki ajaran-ajaran radikal.

Kita sebagai orangtua sebaiknya melakukan pengawasan khusus kepada anak-anak kita dalam menggunakan internet dan/atau jejaring sosial agar anak-anak kita tidak tersesatkan oleh informasi-informasi atau konten-konten yang menjerumuskan mereka pada pergaulan yang tidak baik, tegasnya.

Kemiskinan yang merupakan tanggung jawab kita bersama juga, lanjutnya, merupakan tugas rumah yang sangat besar bagi pemerintah dalam mengentaskannya, karena dengan lebarnya jurang pemisah antara yang kaya dengan yang miskin, kelompok teroris dapat dengan mudah menanamkan paham-pahamnya untuk menimbulkan rasa kebencian yang mendalam, membangkitkan amarah yang meledak-ledak dan fanatisme yang tak terarah.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed