oleh

PT Jaya Agra Wattie Dinilai Ingkar Janji Karena Belum Berikan Fee 2,5 Persen

Tujuh orang HM Sanimudin, Ngatino, Tri Suliastyadi, Eter Pambudi, Ironius Kamulu, Daron dan Eko Isbantoro yang mengaku menjadi mediator penjualan aset perusahaan PT Jaya Agra Wattie Tbk—perusahaan karet dan minyak kelapa sawit yang memiliki 3 tiga anak perusahaan dan 1 unit pabrik yang berlokasi di Kintap Tala, Batola, Pulau Laut Kotabaru serta Mekarsari Anjir Pasar Mandiangin Kabupaten Banjar.

Menuntut pemberian fee sebesar 2,5 persen terhadap PT  Jaya Agra Wattie Tbk, karena berhasil mencarikan investor untuk membeli aset perusahaan yang dimiliki perusahaan karet dan kelapa sawit PT  Jaya Agra Wattie Tbk.

Melalui kuasa hukum Anang Yuliardi SH dan Vincensius Woy SE CLA sudah pernah melakukan somasi pertama 23 Oktober 2017, tampaknya juga tak mendapat tanggapan.

Bahwa berdasarkan kesepakatan antara klien kami yaitu tim mediator dengan PT Jaya Agra Wattie yang diwakili Bambang Sugianto Ibrahim tentang  pemberian fee sebesar 2,5 persen dari nominal harga jual yakni Rp2.700.000.000.000 (Dua Triliun  Tujuh Ratus Miliar Rupiah) bilamana tim mediator  berhasil membeli anak-anak perusahaan, PT Jaya Agra Wattie Tbk.

Bahwa berawal dari adanya keinginan dari PT Garuda Mas yang mewakili kepentingan pihak investor yang berasal dari Malaysia untuk membeli perusahaan  perkebunan Sawit di Indonesia dan atas informasi tersebut klien kami membentuk sebuah tim yang bertugas untuk mencari informasi dan menjebatani keinginan investor tersebut dengan perusahaan  yang akan melepaskan asetnya tersebut.

Bahwa klien kami yang  berbentuk tim tersebut mendapatkan informasi  bahwa PT Ja Wattie Tbk akan melepaskan beberapa mendapatkan investor yang akan membeli anak-anak perusahaan PT Ja Wattie.

Bahwa 3 November 2016 anggota tim mediator yaitu H Sanimudin dan Ngatino didatangi Agus Prayitno yang mengaku bahwa dirinya  utusan  PT Indofood Group dengan maksud  menanyakan kebenaran dan kepastian tentang apakah PT Ja Wattie Tbk benar-benar akan menjual  anak perusahaanya  karena menurut Agus Prayitno ada investor yang serius ada investor  yang serius berminat dan informasi tersebut dibenarkan H Saimudin dan selanjutnya H Saimudin ditindak lanjuti  dengan memperlihatkan dan memberikan data berupa Summary tentang  PT Ja Wattie  Tbk untuk meminta data-data yang dibutuhkan oleh PT Ja Wattie Tbk diberikan data-data yaitu data audit keuangan, peta HGU, titik koordinat, eksekutif summary yang lengkap.

Bahwa data-data yang H Nursairi dapatkan tersebut kemudian diserahkan kepada tim mediator  yaitu Etter Pambudi, Siswanto dan Agus Hatta dan Agus Hatta dokumen tersebut diserahkan kepada PT Indofood Group.

Bahwa akhirnya antara PT Ja Wattie Tbk dengan PT Indofood Group sukses terjadi jual beli atas anak-anak perusahaan PT Ja Wattie Tbk  sebagaimana telah diuraikan diatas dan oleh karena berdasarkan kesepakatan klien kami tim mediator  dengan direktur  keuangan  PT Ja Wattie yaitu Bambang Sugiarto  Ibrahim dimana diperjanjikan bilamana  tim mediator berhasil mendapatkan investor yang potensial dan serius  membeli anak-anak perusahaan PT Ja Wattie Tbk tersebut maka tim mediator akan diberi fee sebesar 2,5 persen dari harga jual (2,7 trilyun rupiah) dan oleh karena jual beli antara PT Ja Wattie Tbk dengan PT Indofood Group ini terjadi atas mediasi dari tim mediator maka bersama ini kami meminta agar PT anak perusahaannya yang berupa perusahaan perkebunan sawit, perkebunan karet dan pabrik pengolahan karet, atas informasi tersebut akhirnya klien kami mendatangi PT Ja Wattie  Tbk yang beralamat di Jalan Abdul Muis No 40 Jakarta Pusat guna membicarakan maksud keinginan pihak investor yang diwakili PT Garuda Mas dan di kantor  PT Ja Wattie  Tbk  tersebut  klien kami tersebut dan dilayanai Bambang Sugianto Ibrahim selaku Direktur keuangan.

Bahwa dalam pertemuan tersebut, klien kami menyampaikan bahawa mereka adalah tim mediator yang mewakili keinginan investor dari PT Garuda Mas yang bermaksud untuk membeli perusahan perkebunan sawit milik PT Ja Wattie Tbk dan atas maksud dan tujuan klien kami tersebut Bambang Sugianto Ibrahim menyampaikan  bahwa PT Ja Wattie Tbk memang akan melepas kepemilikan atas 3 anak perusahaanya  serta ditambah  1 unit  pabrik pengolahan karetnya sebagai berikut

a. PT Kintap Jaya Wattindo perusahaan perkebunan kelapa sawit  yang terletak  di daerah Kintap kabupaten Tanah Laut dengan luas lahan  kurang lebih  12.000 ha, dengan  1 unit pengolahannya.

b. PTAgri Bumi Sentosa, perusahaan Kelapa Sawit yang terletak di daerah Marabahan, Kabupaten Barito Kuala yang terletak di daerah Marabahan, kabupaten Barito Kuala dnegan luas lahan  kurang lebih 15.000 Ha, dengan 1 unit pengolahannya.

c. PT Bumi Prada perusahaan perkebunan karet yang terletak di wilayah Pulau Laut Tengah kabupaten Kota baru dengan luas lahan kurang lebih 5.000 Ha.

d. PT Anugerah Wattindo perusahaan perkebunan pabrik pengolahan karet dengan kapasitas 3 ton per jam yang terletak di wilayah Mekarsari Anjir Pasar Mandiangin dengan luas area pabrik 20 Ha. Bahwa harga pelepasan (take over) dari empat anak perusahaan tersebut adalah sebesar Rp2.700.000.000.000 (dua triliun tujuh ratus miliar rupiah).

Bahwa dalam pertemuan antara klien kami dengan Bambang Sugianto  Ibrahim di kantor  PT Ja Wattie Tbk tersebut  maka tim mediator mendapatkan buyer yang potensial dan serius dan berhasil mensukseskan jual beli anak-anak perusahaan PT Ja Wattie  Tbk tersebut maka tim mediator akan diberikan fee sebesar 2,5 persen dari harga jual asset-aset tersebut.

Bahwa dikarenakan oleh sesuatu dan lain hal proses rencana  pembelian asset-aset  milik PT Ja Wattie  Tbk oleh investor  dari Malaysia  yang diwakili oleh PT Garuda Mas mengalami kegagalan, namun hal tersebut tidak menjadikan semangat  klien kami menjadi kendor untuk mencari investor, klien kami tetap melanjutkan melakukan penawaran ke berbagai pihak untuk J A Wattie  Tbk segera merealisasikan pemberian fee sebesar 2,5 persen dari harga jual asset-aset tersebut.

Demikian somasi ini kami sampaikan, kami berharap kiranya somasi ini  mendapatkan perhatian dan tanggapan serius dari pihak PT Ja Wattie Tbk, pihak kami sangat terbuka untuk berdialog langsung  bersama jajaran  PT Ja Wattie  Tbk  guna menyelesaikan permasalahan ini, bahwa apabila dalam waku 7 hari sejak diterimanya somasi ini saudara tidak mengindahkan atau mengabaikan somasi ini serta  tidak melaksanakan hal-hal yang telah kami sampaikan  tersebut di atas , maka kami akan menempuh jalur hukum untuk itu atas perhatiannya diucapkan terimakasih.

Menurut pengakuan H Nursairi SH MH, kronologis penjualan PT Jaya Agra Wattie Tbk disebutkan,

  1. Tanggal 22 Februari 2016 LOI atas nama PT Agro Lestari dikirim melalui email  dan diterima Andi selaku Direktur PT Ja Wattie  Tbk, tanggal 3 Maret 2016, Nursairi dan M Khasibun berdasarkan LOI  yang dikirim  atas nama PT Agro Lestari diundang PT Ja Wattie Tbk.
  2. tanggal 3 Maret 2016 Nursairi dan M Khasibun berdasarkan LOI yang dikirim atas nama PT Agro Lestari diundang PT JA Wattie Tbk tanggal 3 Maret 2016 yang ditandatangani  direktur  PT Ja Wattie  Tbk atas nama Andi Hariyanto .
  3. Tanggal 5 April 2016 menerima  LOI dan profil Company dari PT Garuda Emas  Holdings  SDNBHD yang berkedudukan di Malaysia dan berminat untuk membeli PT Ja Wattie Tbk dan surat  minat tersebut  ditandatangai  oleh Datuk Zainal Abidin sebagai direktur .
  4. Tanggal 13 April 2016 pukul 10.00 WITA H Nursairi dan Datuk Burhanudin dari Malaysia menghadap  Rohadi dan kawan-kawan  di Kantor Ja Wattie Tbk di Wisma  BS6 lantai 8 JaLAN Abdul Muis  No 40 Jakarta Pusat. Setelah  diperiksa  surat  menyurat  LOI /profil  Company lalu  H Sairi  dan Datuk Burhanudin dari Malaysia  dihadapkan ke Bambang  S Ibrahim sebagai direktur keuangan , setelah surat menyurat diperiksa  Bambang S Ibrahim lalu dilanjutkan pembicaraan mengenai jual beli teknisnya PT Ja Wattie Tbk.
  5. Tanggal 13 Juli 2016 PT Garuda Emas Holdings SDNBHD mengeluarkan surat yang ditujuakan kepada PT Ja Wattie  Tbk dengan maksud  pada bulan Agustus 2016 pihak Garuda Emas Holdings SDNBHD akan datang ke Jakarta  untuk menemui  Bambang S Ibrahim selaku direktur  keuangan PT Ja Wattie  Tbk untuk akuisisi saham Kebun Kelapa Sawit  PT Ja Wattie  Tbk sesuai  surat tertanggal 13 Juli 2016.
  6. Pada tanggal 8 Agustus 2016 H nursairi bersama Datuk Burhanudin dari  Malaysia dengan ditemani Ir Muhammad Khairudin dari Martapura , Ujang dari Martapura, Muhammad Hata dari Muara Tewe, Hariadi dari Muara Tewe dan Sanimudin dari Banjarmasin menghadap Bambang S Ibrahim direktur keuangan PT Ja Wattie Tbk di kantor Jalan Abdul Muis No 40 Jakarta Pusat dan membicarakan mengenai harga kebun milik  PT Ja Wattie Tbk yang ada di Kalimantan dan waktu itu harga disepakati  sebesar Rp2,7 Triliun dengan fee buat mediator sebanyak 5 persen dari harga Rp2,7 Triliun sebesar Rp135 miliar. Dan sesuai  kesepakatan fee tersebut dibagi 3 kelompok  yaitu Kelompok Kalimantan atas nama H Kusairi dan kawan-kawan dapat Rp45 miliar, kelompok Jakarta  atas nama Bambang S Ibrahim dan kawan-kawan Rp45 miliar.
  7. Pada tanggal 15 September 2016 H Nursairi bersama Jayadi dari Rantau dan Bentot dari Banjarbaru serta Roy dari Jakarta menghadap Bambang  S Ibrahim di Kantor PT Ja Wattie Tbk  mengadakan pertemuan  dan di dalam pertemuan tersebut  perusahaan Roy juga berminat ingin membeli PT Ja Wattie Tbk dan dalam pertemuan tersebut disepakati untuk survey kebun dan cek surat menyurat namun proses tidak berjalan atau tidak berlanjut.
  8. Tanggal 5 November 2016 H Nursairi mendapat telepon dari Sanimudin Banjarmasin bahwa telah kedatangan  tamu dari Palangkaraya Agus Prayitno dan kawan-kawan mengaku utusan  atau kepercayaan dari PT Indofood/Indo Group yang bermaksud ingin membeli PT Ja Wattie Tbk , lalu H Sairi meminta Sarimudin untuk memberikan LOI-nya sebagai data awal (LOI)
  9. Kemudian 6 November  2016 Agus Prayitno dari Palangkaraya ke rumah H Nursairi dan mengaku sebagai utusan atau kepercayaan dari PT Indofood atau Indo Group yang ditemani  Eko di Palangkaraya, Aan dari Banjarmasin, Slamet dari Banjarbaru, Tri  dari Banjarbaru dan Darono dari Banjarbaru.

Kedatangan Agus Prayitno ke rumah H Nursairi bermaksud menanyakan apa benar H Sairi sebagai kuasa jual PT Ja Wattie Tbk lalu  H Nursairi menjawab benar kemudian PT Ja Wattie Tbk dan setelah mengecek surat menyurat Agus Prayitno baru yakin bahwa PT Ja Wattie  Tbk benar-benar dijual, setelah yakin baru menanyakan tentang harga dan fee mediatornya kemudaian dijelaskan harga net kebun PT Ja Wattie  Tbk khusus yang di Kalimantan  Rp2,7 triliun dan fee 2,5 persen samapi 5 persen dari harga. Setelah mendapatkan data-data PT Ja Wattie Tbk dan penjelasan dari H Nursairi , Agus Prayitno segera melaporkan ke pimpinan PT Indofood  atau Indo  Group.

  1. Tanggal 7 November 2016 Eter dan Eron dari Palangkaraya datang kerumah H Nursairi  mengaku disuruh  Agus Prayitno dan Siswanto perwakilan PT Indofood atau Indo Group karena PT Indofood atau Indo Group tidak mau  membuat LOI kemudian Eter dan Eron membuat LOI atau surat minat beli PT Ja Wattie  Tbk menggunakan perusahaan lain yaitu atas nama PT Mitra Nusapala Lestari tanggal 8 November 2016,
  2. Tanggal 24 2016 Eter  dan Eron ditemani H Sanimudin datang ke H Nursairi bermaksud ingin survey diketahui  Irpan pejabat PT Ja Wattie  Tbk yang ada di Kintap dan Muhdar selaku humas PT Ja Wattie Tbk  setelah selesai survey   Eter dam Eron  serta H Sanimudin memberi data atau surat  menyurat PT Ja Wattie  Tbk secara lengkap dan berjanji akan segera melaporkan ke Agus Prayitno dan Siswanto guna proses selanjutnya.
  3. Sabtu, 3 Desember 2016 Budi karyawan  Bank BI Banjamasin  mengaku suruhan dari Oyong Kumoro atau pamannya Budi suruhan atau kepercayaan  PT Gunta Samba yang ada di Jakarta untuk mencari data dan menanyakan kepada H Nursairi  apa benar PT Ja Wattie Tbk ingin dijual, setelah saya jelaskan dan perlihatkan data-data  PT Ja Wattie  Tbk, Budi baru percaya PT Ja Wattie Tbk ingin jual.
  4. Sabtu 10 Desember dan Minggu 11 Desember 2016 Budi minta ditemani survey ke kebun PT Ja Wattie  Tbk yang ada di wilayah Kintap atau Tanah Laut dan yang ada di Marabahan. Budi survey selama 2 hari dan ditemani Jushani dan Matah, Eko dari Damit. Setelah survey Budi menelepon H Nursairi dan melapokan bahwa hasil survey  dan data-data  atau foto hasil survey dikirimkan kepada Oyong Kumoro selaku perwakilan PT Gunta Samba yang ada di Jakarta sekaligus dari paman Budi.
  5. Tanggal 13 Desember 2016 Budi telepon H Nursairi katanya disuruh  Oyong Kumoro untuk mengecek  ke BPN  (Badan Pertanahan Nasional) apa benar legalitasnya dan ada masalah apa tidak. Dan kata Budi  setelah di cek ke Dinas atau kantor BPN tingkat I Banjarmasin data benar dan tidak ada masalah  selanjutnya dilaporkan kepada  Oyong Kumoro  untuk proses selanjutnya.
  6. Tanggal 7 Januari  2017 H Nursairi  ditelepon  Oyong Kumoro untuk datang ke Jakarta Senin, 9 Januari  2017 di Jakarta guna menemui Oyong Kumoro  dan pihak Legal PT Gunta Samba waktu itu disebutkan atas nama Cahyono guna membahas  PT Ja Wattie  Tbk dan rencana langsung menghadap pimpinan PT Ja Wattie  Tbk namun pada saat tersebut Oyong Kumoro  mendadak  teltpon  H Nursairi bahwa Oyong Kumoro dan Cahyono Legal dari PT Gunta Samba ada tugas dari pimpinan untuk pergi ke Semarang selama dua hari dan sesuai perjanjian  Rabu, !! Januari 2017  ingin bertemu lagi  dengan saya dan langsung menghadap  pimpinan PT Ja Wattie Tbk namun tidak ada kabar. H Nursairi putuskan tanggal 11 Januari 2017 pulang ke Banjarmasin dan menerima telepon Oyong Kumoro.
  7. Tanggal 5 Februari 2017 Budi me- whatsapp H Nursairi bahwa data-data telah dikirimkan ke PT Gunta Samba dan menyampaikan bahwa omnya bernama Oyong Kumoro tanggal 9 Mei 2017 akan ke Jakarta menghadap pimpinan PT Gunta Samba untuk menanyakan proses jual beli PT Ja Wattie Tbk.
  8. Tanggal 4 April 2017 H Nursairi mengirim LOI atau surat minat atas nama PT Indomac  Trade Jaya untuk membeli PT Ja Wattie  Tbk dan diterima langsung Bambang S Ibrahim.
  9. Dan tanggal 7 Mei 2017 H Nursairi dengan Agus Prayitno dan Siswanto membuat pernyataan kesepakatan pembagian fee hasil penjualan PT Ja Wattie Tbk dengan kesepakatan bahwa fee dibagi 4 group yaitu satu goup  untuk kelompok Agus Prayitno dkk, satu goup untuk Bambang dkk dari Indo Goup, satu goup untuk Bambang  PT Ja Wattie Tbk dan satu goup untuk H Nursairi  dkk.
  10. Rabu 17 Mei  2017  Oyong Kumoro  me whats app H Nursairi dan  memberitahu bahwa  sudah ketemu orang kedua  goup Indo dengan hasil sebagai berikut proses akuisisi sudah berlangsung, saat  ini berjalan penyesuaian manajemen, pembiayaan  sudah di handel  oleh Indo Group.
  11. Pada Kamis  18 Mei 2017  H  Nursairi me whatsapp Bambang S Ibrahim Direktur Keuangan PT  Ja Wattie  Tbk memberitahukan bahwa ada perusahaan yang berminat atas nama PT Indo Goup  dan PT Gunta Samba bahwa  data-data  dan surveynya dengan  H Nursairi  namum Bambang S Ibrahim menjawab tidak tahu, lalu saya sampaikan lagi kepada Bambang S Ibrahim  bahwa teman-teman saya banyak. Nanti bisa bermasalah dan Bambang  S Ibrahim tetap menjawab tidak tahu dan mengatakan urusannya  langsung  ke pimpinan  PT Ja Wattie Tbk.
  12. Bulan Juni 2017 H Nursairi  dkk dari Banjarmasin dan Palangkaraya mengadakan unjuk rasa di PT Ja Wattie  Tbk yang ada di Marabahan Batola sebanyak 2 kali dengan tuntutan  minya dibayar fee hasil mediator  jual beli PT Ja Wattie Tbk  dan saat unjuk rasa tersebut ditemui Loter pimpinan baru dari PT Gunta Samba dan Bisri  pimpinan PT Ja Wattie  Tbk  dan kedua pimpinan tersebut  membuat surat pernyataan  untuk memfasilitasi untuk ketemu dengan pimpinan  PT Gunta  Samba  maupun PT Ja Wattie Tbk.
  13. Pada bulan September H Sanimudin dkk didampingi pengacara Vincensius Woy SH, CLA dari Jakarta  menghadap ke kantor PT Ja Wattie  Tbk  di Jalan Abdul Muis  No 40 Jakarta Pusat  dengan maksud  untuk menuntut fee hasil penjualan PT Ja Wattie Tbk sesuai  dengan perjanjian atau kesepakatan dengan Bambang  S Ibrahim. Apabila mempunyai pembeli  akan diberi  fee sebesar  2,5 persen  sampai 5 persen dari harga jual dalam pertemuan  tersebut  ditemui oleh Rohadi.
  14. Tanggal 23 Oktober  2017 gorup Sanimudin dkk mensomasi pimpinan PT Ja Wattie Tbk melalui pengacara  atas nama  Vincensius Woy SH, CLA .
  15. Tanggal 25 dan 26 Oktober  2017 H Nursairi dkk mengadakan unjuk rasa di pabrik atau kantor PT Ja Wattie  Tbk kepada PT Gunta Samba atau Indo Group namun sampai sekarang belum ada jawaban pasti.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed