oleh

Memilih Dan Memilah Ekonomi Rumah Tangga

Oleh: Dwi Mardiningsih SPt
Penulis adalah Penyuluh Pertanian Muda Dinas Pertanian, pernah meraih prestasi penyuluh teladan lll tingkat kabupaten Banjar tahun 2010, sekarang ditempatkan di Dinas Peternakan dan Perkebunan kabupaten Banjar.

Beranjak dari pemikiran kaum Hawa yang kerja rutinnya mengurus rumah tangga alias sekretaris keluarga yang selalu mendampingi sang suami sebagai Kepala Rumah Tangga dalam kehidupan sosial mempunyai tanggung jawab besar dilingkungan keluarga.
Namun di era milenial zaman Now, pangan konon tidak semua aman konsumsi sebagaimana pada masa tempo doeloe,karena sekarang jenis pangan instant sangat menggudang dimana-mana baik makanan pokok maupun makanan ringan camilan yang harganya terjangkau, dan kadang-kadang kita atau anak-anak tidak sadar bahwa jajanan instant terkadang tidak sedikit yang sudah espayet alias kadaluarsa habis masa layak konsumsi.

Sadar dari kenyataan tersebut kita tentu diingatkan kembali tatkala masih duduk dibangku SD ada mata pelajaran masalah kesehatan. Kunci ketahanan tubuh yang sehat dan kuat adalah Empat Sehat Lima Sempurna (ESLS) yakni makanan pokok /beras, ikan, sayur mayur, buah-buahan dan minum susu. Kalau dengan bahasa kesehatan semua asupan yang dibutuhkan oleh tubuh yakni karbohidrat, protein, lemak ,vitamin dan serat, mineral.

Beranjak dari itu di abad ke 20 ini di Indonesia telah dimulai tahun 2010 pada masa presiden SBY di Pacitan Jawa Timur dengan dasar pemolaan pemanfaatan lingkungan pekarangan rumah dengan budidaya berbagai tanaman kebutuhan rumah tangga yang disebut Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Sampai saat ini besutan presiden SBY atas kerjasama pemerintah dengan PKK sudah menjamur hampir keantero Nusantara dan sudah digandrungi masyarakat terutama ibu – ibu rumah tangga mulai perkotaan sampai perdesaan.Tidak terkecuali di kabupaten Banjar provinsi Kalimantan Selatan yang digerobaki Kelompok Wanita Tani (KWT) atas pembinaan Dinas Ketahanan Pangan bekerjasama dengan PKK setempat dimasing-masing provinsi dan kabupaten/kota.

Dalam tata sosial kemasyarakatan sering kita dengar kasus kurang gizi , orang sakit tak mengenal usia karena hasil diagnosis karena terlalu sering mengonsumsi makanan instan .Dan kalau tidak kurang gizi atau gizi buruk alias tidak lengkap dan tidak memenuhi standar kalori kebutuhan tubuh, ada juga yang menderita penyakit obesitas alias kelebihan gemuk ideal karena kelebihan lemak dan mungkin kelebihan karbohidrat akibat makanan kurang lengkap gizi /tidak seimbang bahkan tidak aman konsumsi. Maka itu budaya budidaya pangan aman konsumsi dalam program keamanan pangan, masyarakat semakin sadar akan pentingnya kesehatan sebagai dasar membangun bangsa yang sehat dan kuat.

Diantaranya adalah pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari.Selain itu kalau kita sedikit menyitir pernyataan pihak Bank Indonesia, konon KRPL adalah soluasi menekan angka inflasi merupakan pernyataan sejalan dengan kondisi perekonomian bangsa meskipun akhir-akhir ini (tahun 2018) nilai rupiah terhadap kurs Dolar merosot tajam hingga mencapai Rp15.000/$ AS. Keanekaragaman pangan atau istilah lain diversifikasi pangan merupakan langkah menuju Indonesia sehat dan ketahanan pangan yang sangat positif karena tidak ketergantungan kepada satu jenis bahan pokok.

Sementara sebagai penyeimbang gizinya adalah tersedianya sayur mayur yang mengandung vitamin dan mineral protein nabati. Sumber gizi hewani dari ikan, daging ayam, itik, bahkan kelinci, yang dapat dipelihara KWT dikawasan KRPL. Bukan tidak mungkin karena sudah banyak fakta yang direalisasikan oleh para ibu rumah tangga yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) sebagai inovasi /pengembangan dari dasawisma (10 KK). Saya (penulis) tertarik oleh semangat ibu-ibu rumah tangga yang saya dampingi yakni KWT. Mekar Sari didesa Indrasari kecamatan Martapura kota kabupaten Banjar yang merupakan satu dari 5 KWT yang dibina Dinas Ketahanan Pangan dan PKK kabupaten Banjar, mempunyai semangat untuk mengembangkan KRPL dengan anekaragam sayur mayur,tanaman biofarmaka /bahan obat-obatan herbal sebagai sumber protein nabati. Ibu-ibu rumah tangga pada umumnya memahami dan sadar betul terhadap informasi-informasi tentang pangan yang sehat, yakni sebagai benteng kokoh keamanan pangan,yang terhindar dari berbagai residu kimia bahan pengawet makanan kemasan, termasuk bumbu-bumbu masak yang dibeli diwarungan atau supermarket.

Tonggak yang menjadi bangunan kokoh rakyat sehat negara kuat sedianya beranjak dari sini. Karena dari KRPL semuanya dimulai. Mulai dari pengolahan lahan secara manual yang murah, penyediaan bibit dan benih tanaman, menjaga ramah lingkungan, tanpa obat-obat anti hama/penyakit dari bahan kimia .Saatnya panen tentu tidak lagi harus memikirkan pergi ke pasar.

Kapan saja tatkala mau memasak dalam bentuk segar dan kaya akan gizi serta mineral yang dapat mencukupi kebutuhan gizi keluarga tingal memetik dihalaman rumah. KRPL bila dilihat dari sisi pinansial biaya hidup rumah tangga, minimal 30 persen dari nominal uang belanja sehari-hari sudah tersumbang oleh pangan sehari-hari dari kebun sendiri. Bahkan fakta lapangan, ibu-ibu rumah tangga yang tergabung dalam KWT pengelola KRPL sudah mengarah kepada minibusinnes alias bisnis kecil kecilan yakni dapat menjual produksi sayur mayur dari kebun pangan lestari baik dalam bentuk segar maupun makanan jadi. Sebagai contoh konon sayur daun sawi bukan hanya untuk dibuat oseng-oseng atau sayur bening atau campuran mie ayam,tetepi sudah lebih modern yakni dibuat juisse sawi yang rasanya tidak kalah dengan juisse alpukat yang nilai harganya lebih mahal.

Kalau saja ibu-ibu rumah tangga sudah merata sadar akan hadirnya KRPL dalam kerjasama kelompok KWT, besar harapan Indonesia kedepan ekonominya bisa mandiri tidak selalu ada masalah setiap tahun selalu ada kabar impor beras, dan bahan-bahan bumbu dapur, karena masing-masing rumah tangga ada disekitarnya dan aman konsumsi. Mengapa hanya bicara perdesaan? Jawabannya masyarakat diperdesaan untuk negara kita 80 persen menurut statistik penduduknya berada diperdesaan.

Wajar kalau kita bicara ekonomi perdesaan,alasannya bukan karena program pemerintah yang sifatnya temporer tetapi program ini adalah pondasi membangun masyarakat Indonesia yang sehat. Diperdesaan tidak perduli dolar mahal rupiah terganjal. Yang penting bahan-bahan pokok sehari-hari tidak selalu tergantung pasar yang ditukar dengan uang.Tetapi hanya tinggal petik olah dan konsumsi yang terhindar dari keraguan akan bahaya kandungan bahan-bahan kimia yang berbahaya terhadap kesehatan.

Sebagai ilustrasi, bahwa kajian gizi yang dirilis oleh UNICEF bahwa Indonesia tahun 2012 balita kurang gizi rata-rata 1 dari 5 Balita kekurangan gizi, akibatnya rentan terhadap penyakit. Remaja kurang asupan gizi pertanda buruknya Sumber Daya Manusia(SDM) yang pada.akhirnya akan menurunkan produktivitas bangsa dimasa datang.Sementara hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2013 yang dirilis Kementerian Kesehatan RI, tingkat prevalensi balita kurang gizi 1 diantara 5 balita atau 19,6 persen,. Kurang gizi kronis (gizi buruk) secara nasional 37,2 persen. Artinya pertumbuhan tidak maksimal yang diderita oleh 8,9 juta anak Indonesia atau 1 dari 3 anak Indonesia mengalami prevalensi stunting (menderita gizi buruk).

Lima tahun terakhir ini melalui KRPL di Indonesia sudah membuktikan kesadaran pentingnya gizi dan kesehatan oleh masyarakat Indonesi melalui nafas KRPL. Harapan kedepan dengan semakin modernnya teknologi informasi dimedia masa baik cetak maupun elektronik sudah saatnya bangsa Indonesia bukan hanya diperkotaan saja tetapi sudah merata keperdesaan untuk menyerap berbagai informasi positif termasuk masalah kesehatan, info gizi, sehingga mampu mendongkrak dan menjawab segala tantangan global.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed