oleh

Bank Indonesia Kalsel : Perekonomian Kalsel Tumbuh 4,64 Persen

Dalam catatan Bank Indonesia Kalimantan Selatan, perekonomian Kalimantan Selatan pada triwulan II-2018 tumbuh sebesar 4,64% (yoy). Pertumbuhan ini dinilai melambat dibandingkantriwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 5,07% (yoy).

Arah pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan pada triwulan II-2018 berbeda arah dengan perekonomian nasional yang tumbuh meningkat menjadi 5,27% (yoy) dari sebesar 5,06% (yoy) pada triwulan lalu. Pertumbuhan ekonomi regional Kalimantan tumbuh relatif moderat dibandingkan triwulan sebelumnya yaitu sebesar 3,31% (yoy).

“Dari sisi permintaan, perlambatan tersebut bersumber dari melemahnya ekspor khususnya batubara seiring koreksi harga batubara dan lebih rendahnya pertumbuhan ekonomi negara mitra pada triwulan II-2018,” kata Kepala BI Kalsel Herawanto pada acara press release dengan media, Rabu (12/9).

Di sisi lain, konsumsi rumah tangga tumbuh meningkat seiring tingginya konsumsi saat Ramadhan-Idulfitri. Konsumsi pemerintah juga tumbuh meningkat dengan adanya pembayaran THR dan gaji ke-13. Demikian pula investasi tumbuh meningkat didukung berlanjutnya pembangunan infrastruktur dan swasta.

Dari sisi penawaran, perlambatan pertumbuhan ekonomi utamanya bersumber dari melemahnya kinerja sektor pertambangan dan industri pengolahan. Melemahya kinerja sektor pertambangan tersebut masih terkait lambannya kinerja ekspor. Demikian pula sektor industri pengolahan tumbuh melambat dipengaruhi kinerja ekspor CPO yang masih tertahan.

Di sisi lain, kinerja sektor pertanian tumbuh meningkat didukung panen raya padi yang masih berlangsung pada triwulan II-2018.Selain itu, kinerja yang meningkat juga terjadi pada sektor LGA terkait betambahnya utilisasi pembangkit listrik baru, serta sektor perdagangan hotel dan restoran (PHR) dan sektor tansportasi dan komunikasi terkait tingginya permintaan saat Ramadhan-Idulfitri.

Realisasi inflasi IHK Kalimantan Selatan pada bulan Agustus 2018 mencatatkan inflasi sebesar 0,03% (mtm), lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang mencatatkan deflasi sebesar 0,05% (mtm). Inflasi tersebut bersumber dari adanya inflasi komponen Diatur Pemerintah (AP) terkait penyesuaian tarif parkir di Kota Banjarmasin.

Di sisi lain, inflasi komponen Bergejolak (VF) dan inti melambat, akibat dari meningkatnya pasokan telur ayam ras dan daging ayam ras yang menyebabkan kembali normalnya harga kedua komoditas tersebut. Secara tahunan (yoy), inflasi pada Agustus 2018 tercatat sebesar 2,24% yoy, terkendali di bawah target inflasi Kalimantan Selatan yang sebesar 3,75±1%, sebagai sasaran antara menuju target inflasi nasional 3,5±1%.

Pada triwulan III-2018, perekonomian Kalimantan Selatan berpeluang tumbuh meningkat didorong oleh ekspor. Peluang perbaikan ekspor utamanya datang dari sektor pertambangan sejalan dengan optimisme pelaku usaha besar di sektor pertambangan untuk mengejar target produksi 2018 pada semester II-2018 dan faktor cuaca yang lebih mendukung proses penambangan. Di sisi lain, revisi ke atas target ekspor batubara oleh pemerintah pusat juga berpeluang memberikan dampak positif pada perekonomian Kalimantan Selatan triwulan mendatang.

Pada triwulan III-2018, inflasi tahunan (yoy) Kalimantan Selatan diprakirakan terkendali dalam target 3,75±1% melalui berbagai upaya TPID khususnya dalam mengendalikan inflasi bahan makanan menghadapi tingginya permintaan saat periode libur sekolah, Idul Adha, dan Tahun Baru Islam.

Komitmen Bank Indonesia untuk mengawal secara ketat stabilitas nilai tukar Rupiah sebagaimana diutarakan Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dilakukan melalui serangkaian langkah stabilisasi telah ditempuh Bank Indonesia, antara lain :

1) Meningkatkan volume intervensi di pasar valas;

2) Melakukan pembelian SBN di pasar sekunder;

3) Membuka lelang FX Swap, dengan target lelang (pada 31/8) 400 juta dolar AS, dan;

4) Senantiasa membuka windows swap hedging.

Selain itu, Bank Indonesia juga senantiasa meningkatkan koordinasi dengan Pemerintah termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memastikan bahwa stabilitas nilai tukar dan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga.

Bank Indonesia meyakini bahwa kondisi perekonomian Indonesia tetap kuat dan berdaya tahan. Beberapa indikator perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan tersebut, seperti pertumbuhan ekonomi yang tumbuh cukup baik, dan inflasi yang rendah serta terjaga. Berdasarkan pemantauan harga s.d. minggu V Agustus 2018, IHK diperkirakan -0,06% (mtm), atau secara year to date mengalami inflasi sebesar 2,12% (ytd), dan secara tahunan 3,19% (yoy). Kondisi stabilitas sistem keuangan juga terjaga sebagaimana ditunjukkan oleh intermediasi yang kuat. Namun demikian, Bank Indonesia juga senantiasa mewaspadai berbagai risiko yang mungkin timbul di tengah ketidakpastian global sebagaimana yang terjadi pada Turki dan Argentina.

Lembaga pemeringkat Fitch Ratings (Fitch) mengafirmasi peringkat Indonesia di level layak investasi (Investment Grade) pada 2 September 2018. Dalam siaran persnya, Fitch memberikan afirmasi atas Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada level BBB/outlook stabil. Beberapa faktor kunci yang mendukung keputusan tersebut, yaitu beban utang pemerintah yang relatif rendah, dan prospek pertumbuhan ekonomi yang baik di tengah tantangan sektor eksternal yang antara lain berasal dari tingginya ketergantungan terhadap pembiayaan eksternal serta indikator struktural lainnya yang masih di bawah negara peers.

Langkah yang ditempuh Bank Indonesia dalam menaikkan suku bunga kebijakan dan intervensi di pasar valas sebagai respons dari tekanan yang dialami oleh negara-negara emerging dinilai mencerminkan komitmen yang kuat untuk menjaga stabilitas.

Dalam hal ini, fokus otoritas yang memprioritaskan stabilitas makroekonomi telah menjadi faktor utama yang mendukung perbaikan rating Indonesia oleh Fitch pada Desember 2017. Secara khusus, sektor eksternal Indonesia dipandang lebih resilien dibandingkan pada saat taper tantrum 2013 sebagai dampak dari stance kebijakan moneter yang disiplin, serta kebijakan makroprudensial yang telah mampu meredam peningkatan utang luar negeri korporasi.

Di sisi Pemerintah, konsolidasi fiskal akan dapat memperbaiki perkembangan beban utang. Lebih lanjut, Fitch berpandangan bahwa fokus otoritas terhadap stabilitas akan tetap dipertahankan, dan tidak terdapat indikasi perubahan kebijakan ekonomi yang signifikan menjelang pemilihan Presiden yang dijadwalkan akan dilakukan pada 17 April 2019.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia dan beban utang Pemerintah dinilai lebih baik dibandingkan dengan negara peers. Pertumbuhan PDB Indonesia diperkirakan meningkat menjadi 5,2% pada 2019 dan 5,3% pada 2020 dengan didukung oleh belanja infrastruktur publik yang berkelanjutan. Sementara tingkat utang Pemerintah juga lebih baik dari median utang negara peers.

Risiko sektor perbankan Indonesia dinilai terbatas dengan tingkat permodalan bank yang kuat. Secara umum, kewajiban bank dalam valas dapat di-cover dengan aset dan telah dilakukan lindung nilai. Di samping itu, sebagian kewajiban dalam valas tersebut merupakan pembiayaan yang berasal dari perusahaan induk.

Rel/hms

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed