oleh

Menjelang Perhelatan Akbar HPS Jajangkit Berdenyut

Tanggal 17 sampai 21 Oktober 2018 Jajangkit diprediksi akan menjadi kota sibuk sesaat yang penuh semangat dan kepastian bahwa desayang menjadi kecamatan pemekaran dari kecamatan Mandastana kabupaten Barito Kuala selama sepekan akan menjadi ajang visual teknologi pertanian dunia menuju kedaulatan pangan nasional maupun internasional.

Menurut Ketua harian Hari Pangan Sedunia (HPS) XXXVIII DR Ir H Suparn MP, dilokasi kegiatan medio September menjelaskan, pengerjaan lahan dimulai bulan Juli 2018 melibatkan seluruh elemen SKPD, TNI, dan kabupaten/kota sampai pertengahan September terealisasi 750 hektar. Dari rencana 4000 hektar bisa diberdayakan sekitar 2098 hektar sisanya masih dalam penelitian laboratorium karena keasaman tanah (fee) di bawah 4 dan topografinya bergelombang.

“Namun ditarget sampai akhir 2018 optimis dituntaskan 4000 hektar. Dari 750 hektar yang terbuka 250 hektar diantaranya lokasi gelar teknologi pola gogo rancah dan pada masa generative dilakukan sistem pengairan. Cara ini dinilai epektif karena padi unggul yang ditanam umumnya varietas impara. Pada puncak acarayang akan dihadiri presiden RI Joko Widodo tanggal 18 Oktober akan memanen padi dilahan 100 hektar yang dikelola SKPD – SKPD provinsi Kalimantan Selatan TNI dan perguruan Tinggi dan SKPD kabupaten/kota,” katanya.

Dikatakannya, Jajangkit adalah sebuah desa yang dimekarkan menjadi kecamatan merupakan batas kabupaten Barito Kuala dan kabupaten Banjar merupakan lahan rawa lebak monoton puluhan tahun silam. Setelah ada relokasi transmigrasi tahun 1980-an kawasan itu mulai dibukan sebagian namun banyak lahan tidak digarap lagi (lahan tidur) karena kekurangan tenaga kerja. Penduduk asli maupun pendatang dikecamatan Jejangkit tepatnya didesa Sampurna, banyak memiliki lahan puluhan hektar per Kepala Keluarga, namun tidak digarap maksimal.

Suparn mengatakan, dengan ditetapkannya sebagai lokasi HPS ke 38, desa yang selalu senyap terebut kini berdenyut kembali. Para pemilik lahan secara terbuka dan sukarela terutama diareal gelar teknologi meminjamkan kepada pemerintah untuk dikelola yang nantinya pasca HPS akan dikembalikan pemerintah kepada masyarakat. Kemungkinan besar kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) provinsi Kalsel tersebut, bisa melibatkan pihak swasta atau BUMN bekerjasama dengan petani dengan sistem kesepakatan bagi hasil.

“Kegiatan HPS XIII di Kalimantan Selatan dilaksanakan dua lokasi selain pembukaan lahan gelar teknologi khusus padi di Jejangkit Batola, juga di kawasan perkantoran provinsi Kalimantan Selatan dikecamatan Cempaka kota Banjarbaru yang berdekatan dengan Kebun Raya Banua,” jelasnya.

Ayi Kuswana.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed