South Borneo Art Festival Desa Kiram Satukan Keberagaman Lewat Seni dan Budaya

oleh -7 views
Terobosan baru terus dilakukan oleh Pemrov Kalsel guna mengenalkan Desa Kiram agar bisa dikenal baik masyarakat lokal, nasional dan mancanegara. Salah satu upayanya dengan menggelar ajang seni dan budaya sambil berwisata di Desa Kiram. Kegiatan South Borneo Art Festival (SBAF) di Desa Kiram, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, resmi dibuka oleh Sekdaprov Kalimantan Selatan Abdul Haris Makkie pada Minggu (11/11) pukul 20.30 WITA.
Sebanyak pekerja seni mancanegara Asia dan Eropa saling unjuk kebolehan dan berinteraksi dengan seniman asal Kalimantan Selatan dan nusantara diundang pada ajang ini. Kegiatan seni budaya dilaksanakan 8 hari mulai 11-18 November 2018. Bahkan Pemprov Kalsel akan menjadikan SBAF ini agenda rutin.
Kepala Dinas Pendidikan Kalsel M Yusuf Effendi mengatakan kegiatan SBAF bertujuan mengenalkan potensi wisata, seni dan budaya yang dimiliki Kalsel, makanya pihaknya sengaja mengundang para delegasi mancanegara dan nusantara untuk hadir di Desa Kiran saling silahturahmi dan menunjukkan kiorah seni mereka.
Selain itu, kegiatan ini untuk menunjang kunjungan wisatawan ke provinsi setempat. SBAC merupakan momentum mengenalkan potensi wisata seni dan budaya yang dimiliki Kalsel kepada dunia luar,” katanya. Minggu malam (11/11).
Abdul Haris Makkie mengapresiasi ajang untuk mengenalkan potensi wisata dan berkesenian. “Ajang SBAF dijadikan momentum silahturahmi antar pekerja seni dan budaya, dan  diagendakan rutin bila perlu setiap tahun,” katanya.
Kata Abdul, even SBAF sebagai upaya tukar informasi dan komunikasi seni dan budaya. Lewat SBSAF, terjalin silahturahmi dengan pekerja seni mancanegara. “Diharapkan potensi wisata Desa Kiram bisa makin dikenal oleh turis asing,” katanya.
Ajang seni SBAF menampilkan tari, baca puisi, theater, lomba foto, diskusi seni, wisata alam,dan lainnya.
Pada kesempatan tersebut juga ditampilkan kesenian dan tari, pembacaan puisi dari seniman mancanegara yang diundang pada even ini. Tarian baksa kembang khas Kalsel menjadi pembuka acara seni dan budaya, dirangkai tari topeng
Juga penampilah Abah Yosef tokoh seni dari Bandung tampil lewat teaterikal, juga ada penampilan Tari Topeng Losari dari Cirebon yang dibawakan penari Nur Anani M. Sebagai dalang Topeng Losari, Tari Topeng gaya Losari, Cirebon, diciptakan Panembahan Losari atau Pangeran Losari atau Pangeran Angkawijaya sekitar 400 tahun lalu. Pada awalnya tarian ini diciptakan untuk menyebarkan agama Islam dengan mengedepankan penokohan dari cerita Panji.
Seorang pekerja seni asal Jepang, Moritori, mengaku senang bisa diundang pada kegiatan seni dan budaya di Desa Kiram. Ia menilai Kiram layak untuk dikembangkan karena memiliki alam unik dan khas. “Saya sangat suka bisa diundang ke Kiram, harapannya semoga kegiatan ini jadi agenda tahunan. Kami apreasiasi keindahan Desa Kiram,” kata Moritori.
Mahasiswi desain di Tokyo ini berkata Kalsel punya ragam seni dan budaya yang unik dan khas sehingga harus dikembangkan dan dipertahankan. “Kami suka seni tari baksa kembang dan irama musik panting sangat unik,” katanya.
Hal senada dikatakan Martha utusan seni dari Jerman sekaligus mahasiswa jurusan seni. Martha mengaku senang dan kagum dengan hutan alam yang masih ada di Desa Kiram Banjarbaru ini. “Saya berharap Desa Kiram ini terus dijaga keasriannya, karena hutannya masih eksotis dan layak dikembangkan jadi daerah tujuan wisata,” kata dara 21 tahun yang mengerti bahasa Indonesia ini.
Ilham dari Aceh juga mengapresiasi kegiatan yang digagas Pemprov Kalsel, lewat SBAF 2018. “Kami dari Aceh merasa senang bisa diundang. Kami akan tampilkan ragam budaya yang kami miliki disini, semoga kegiatan ini semakin membangkitkan semangat pekerja seni dan budaya masin-,masing daerah agar makin dikenal dan lestari,” ujarnya.
ida

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.