oleh

Ini Catatan Bank Indonesia Kalsel Soal Tantangan dan Peluang Pengembangan Perekonomian Kalsel

Kantor Wilayah Bank Indonesia Kalsel menggelar pertemuan tahunan bersama Pemprov Kalsel di Banjarmasin, Rabu (5/12) berisi pandangan dan catatan mengenai peluang dan tantangan pengembangan perekonomian di Kalsel 2018 “Sinergi untuk Ketahanan dan Pertumbuhan”

Kegiatan tahunan dibuka oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalsel Herawanto, dihadiri Asisten Pembangunan Pemprov Kalsel.

Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan berpeluang sedikit meningkat pada 2018 di kisaran 5,1-55%, dan akan kembali meningkat pada tahun 2019 di kisaran 5,4-5,8%. Peningkatan pada tahun 2019 akan ditopang oleh peningkatan investasi, konsumsi Rumah Tangga (RT) dan konsumsi Lembaga Non Profit Rumah Tangga (LNPRT).

Dari sisi sektoral, pertumbuhan akan ditopang utamanya oleh sektor pertanian dan industri pengolahan seiring terus bergulirnya program cetak sawah serta beroperasinya pabrik baru turunan CPO dan program B20. Di sisi lain, prospek harga batubara yang cenderung akan lebih rendah pada 2019 akan menahan pertumbuhan ekspor dan kinerja sektor pertambangan.

Dari sisi stabilitas keuangan di daerah, penyaluran kredit perbankan Kalimantan Selatan pada triwulan III-2018 berdasarkan lokasi proyek tercatat tumbuh 14,56% (yoy), meningkat dari triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 13,80% (yoy).

Inflasi

Inflasi di Kalimantan Selatan pada tahun 2018 kami prakirakan masih dalam rentang sasaran, yakni 3,75%±1%, sebagai sasaran antara menuju target inflasi nasional 3,5%±1%.

Per Oktober 2018, inflasi Kalimantan Selatan tercatat sebesar 2,66% (yoy), lebih rendah dari inflasi nasional yang sebesar 3,16% (yoy). Hal ini, tidak lepas dari peran Bank Indonesia bersama TPID dalam melaksanakan berbagai program pengendalian inflasi daerah. Namun demikian, kami mencatat bahwa inflasi bahan makanan cenderung agak lebih tinggi yaitu sebesar 5,57% (yoy), utamanya bersumber dari inflasi komoditas telur dan daging ayam ras.

Sistem Pembayaran

Kami akan terus mengembangkan kebijakan sistem pembayaran tunai dan nontunai, termasuk dalam mendukung ekonomi dan keuangan digital. Program elektronifikasi pembayaran nontunai yang telah begitu berhasil di tahun-tahun sebelumnya dan tahun ini akan kami perluas di berbagai area, seperti, elektronifikasi penyaluran program sosial Pemerintah, moda transportasi, dan juga mendukung elektronifikasi keuangan Pemerintah khususnya di berbagai provinsi akan terus kami perluas.

Infrastruktur dan penyelesaian transaksi baik nilai besar melalui RTGS maupun ritel melalui sistem kliring nasional Bank Indonesia akan kami terus perkuat. Interkoneksi dan interoperabilitas dalam Gerbang Pembayaran Nasional akan terus kami tingkatkan.

Untuk Kalsel, kami akan terus mendorong dan mendukung terselenggaranya transaksi-transaksi pemerintah daerah secara non-tunai baik di level provinsi maupun kabupaten dan kota di Kalsel.

Aktivitas non tunai tidak terlepas pula dengan perdagangan daring (e-commerce). Jumlah nominal maupun transaksi e-commerce di Kalimantan Selatan mengalami peningkatan secara signifikan dalam satu tahun terakhir yakni sebesar 303,8% (yoy) diikuti dengan kenaikan jumlah transaksi yang sebesar 164,1% (yoy). Dari sisi kelompok barangnya, handphone dan aksesoris (21%) merupakan kelompok barang yang paling banyak ditransaksikan dalam e-commerce di Kalimantan Selatan, disusul kelompok barang fashion (16%), otomotif dan aksesoris (10%) dan komputer dan aksesoris (9%).

Dari sisi pembayaran tunai, aliran transaksi perkasan Bank Indonesia Kalimantan Selatan pada triwulan III-2018 mengalami aliran masuk bersih (net intflow) sebesar Rp2,57 triliun seiring tingginya aliran uang kartal masuk (inflow) ke Bank Indonesia dari masyarakat pasca-Ramadhan dan Idulfitri. Transaksi kliring pada triwulan III-2018 tercatat sebesar Rp7,24 triliun atau tumbuh 8,03% (yoy). Transaksi real time gross settlement (RTGS) pada triwulan III-2018 tercatat sebesar Rp28,60 triliun atau tumbuh 16,04% (yoy).

Sumber Baru Pertumbuhan Ekonomi Kalsel

Kami memandang Kalimantan Selatan perlu mencari sumber-sumber baru pertumbuhan ekonomi sehingga perlahan dapat melepaskan diri dari ketergantungan pada komoditas, khususnya batubara.

Sesuai hasil riset Growth Strategy Bank Indonesia, terdapat tiga sektor prioritas yang dapat dikembangkan yaitu agroindustri, perikanan, dan pariwisata. Kami melihat bahwa pemikiran kami juga sejalan dengan program Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan sebagaimana tertuang dalam dokumen RPJMD 2016-2021.

Pengembangan ketiga sektor unggulan tersebut kami pandang tepat dan strategis karena selain berperan penting dalam transformasi perekonomian Kalimantan Selatan, juga akan berkontribusi terhadap perekonomian nasional khususnya dalam memperbaiki kondisi neraca perdagangan (Current Account Deficit).

Lebih lanjut, pengembangan pariwisata kami pandang juga dapat didorong sebagai quick win. Hal ini dilandasi bahwa sektor pariwisata merupakan sektor yang menjual sesuatu yang sudah ada. Bagaimana kita mengelola dan mengemas serta mempromosikan secara baik akan menjadi kunci kesuksesan.

Ekonomi Syariah

Dorongan terhadap sumber pertumbuhan ekonomi baru di juga melalui pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Kami akan memperluas program pemberdayaan usaha pesantren dan pengembangan ekosistem halal value chain, khususnya makanan, fashion, dan pariwisata.

Kalimantan Selatan mempunyai modal yang kuat untuk menjadi pusat ekonomi syariah serta lebih jauh sebagai sentra industri halal di regional Kalimantan yang dapat kita dorong lebih lanjut. Pengembangannya meliputi halal food, busana msulim dan pariwisata religi.

Pada gelar Festival Ekonomi Syariah 2018 di Balikpapan, perwakilan Kalsel berhasil meraih berbagai prestasi yaitu juara I tari oleh Sanggar Permata Ije Lela, juara I lomba nasyid oleh Zahro Voice, dan juara 2 lomba busana muslim oleh Haris Hidayatullah.

Pengembangan UMKM

Bank Indonesia Kalsel akan terus menguatkan pengembangan klaster ketahanan pangan dan produk unggulan daerah. Saat ini, terdapat empat klaster yaitu klaster padi unggul di Kabupaten Tanah Bumbu, klaster bawang merah di Kabupaten Tapin, Klaster Ikan Air Tawar di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, dan Klaster Ampulung di Kabupaten Hulu Sungai Utara.

BI juga telah melakukan riset Komoditas Produk dan Jasa Unggulan (KPJU) UMKM pada tahun 2017 yang mengidentifikasi komoditas unggulan di setiap Kabupaten. Riset lainnya yaitu dalam bentuk lending model produk potensial berbasis kearifan lokal. Tahun ini, kami telah menyelesaiakan penelitian mengenai pembiayaan Tenun Pagatan.

rel/yus

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed