oleh

Ada Apa Di Bulan Puasa Masih Banyak Warung Yang Buka

SAMPIT – Tidak seperti tahun sebelumnya dibulan suci ramadhan atas kesepakatan bersama serta surat edaran antara Bupati Kotim, Polres Kotim dan Kemenag Kotim yang mana pada bulan ramadhan untuk menghormati orang yang berpuasa, agar pemilik warung makanan dan minuman untuk menutup warungnya setidak tidaknya dengan penutup memberikan pelindung yang tidak terlihat dari luar.

Penertiban warung yang biasanya juga dilakukan oleh pemerintah daerah melalui bentukan tim pemerintah daerah juga tidak terlihat, bukan itu saja razia gepeng (pengemis) yang semakin hari semakin banyak datang ke Sampit dari pulau Jawa belum ada penertiban hingga mereka dengan leluasa meminta minta dari Jalan sampai rumah kerumah.
Terkait banyaknya warung yang buka secara terang terangan pada bulan suci ramadhan, pimpinan pondok pasantren,KH.Yusuf Udram saat dihubungi media ini melalui telpon selulernya mengatakan dia menyarankan untuk menemui dulu Kemeneg Kasi Agama Islam, namun secara pribadi menurutnya salah satu prinsif hidup orang beriman adalah menghargai hajat dan keperluan orang lain.

Kaitan dengan warung buka siang hari,tentunya hal ini berkaitan dengan keimanan seseorang agar yang buka warung hendaklah agak tertutup dan ini bentuk saling menghargai dengan tidak meninggalkan etika ketimuran. Bagi yang kebetulan tidak berpuasa agar menghormati orang yang sedang menjalankan ibadah puasa.

“Warung yang buka pada siang hari ,disarankan yang memiliki warung makan dan minum untuk mengikuti himbauan Pemerintah Daerah.” pintanya KH.Yusuf Hudromy Kamis (9/5).

dihubungi ditempat yang berbeda melalui telpon selulernya pimpinan pondok pasantren Darul Amin Sampit,Ustad Royyan mengungkapkan itu masyarakat yang tidak mengindahkan ajakan Kemenag Kotim atau sebaliknya pemerintah Kotim Cuma menghimbau tanpa melakukan razia bersama timnya, dan pemerintah daerah harus bijak meyikapi hal ini.

“Jangan hanya menunggu ulama setempat bergerak baru bergerak,seharusnya selogan bergerak cepat itu digunakan untuk menjaga dan menghargai umat islam dalam melaksanakan ibadah puasa” terang Ustad Royyan.

Disamping itu juga yang tidak kalah pentingnya dalam menertibkan gepeng atau pengemis mereka dari pengalaman sebelumnya, ada orang yang mengkoordinir mereka (memperalat mereka) untuk mengemis dan hasilnya akan disetor kepada orang tersebut. Alhasil ketika para gepeng tertangkap oleh aparat koordinator melarikan diri dan setelah diperiksa diantaranya ada gepeng atau pengemis memiliki mobil dan ditemukan uang puluhan juta rupiah dari hasil mengemis.

Dari pantauan dan penelusuran media ini di dalam kota Sampit, banyak sekali ditemukan para pengemis yang diduga datang dari pulau Jawa meminta minta dipusat keramaian dan toko. Diantara mereka juga ada dengan modus menawarkan buku dan membawa kotak amal yang belum tentu untuk masjid.

Nal/IB.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed