oleh

Sektor Perekonomian Utama Kalsel Melambat, BI Dorong Hilirisasi Minyak Sawit

Banjarmasin – Direktur Eksekutif Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan Herawanto dalam kata sambutannya pada seminar ekonomi dan bisnis mengatakan, Kalsel harus mencari sumber-sumber baru pertumbuhan ekonomi baru, dikarenakan mulai melambatnya sektor-sektor ekonomi utama di Kalimantan Selatan.

“Ketergantungan perekonomian Kalimantan Selatan pada sektor tertentu, khususnya pertambangan, masih sangat tinggi. Perubahan harga komoditas produk pertambangan terkait dinamika permintaan global secara langsung memengaruhi kinerja pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan,” katanya di Bank Indonesia, pada seminar yang mengangkat tema “Upaya Percepatan Hilirisasi Komoditi Unggulan Kalsel: Peluang Biofuel untuk Pemenuhan Kebutuhan Energi Domestik,”

Kata Herawanto, ketergantungan tersebut menyebabkan rentannya perekonomian Kalimantan Selatan dalam jangka menengah-panjang apabila tidak terdapat upaya khusus untuk mendorong munculnya sumber baru pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan riset Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalsel tahun 2015 mengenai Growth Diagnostic, terdapat tiga sektor prioritas yang dapat didorong sebagai sumber baru pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan yaitu hilirisasi minyak kelapa sawit, olahan produk perikanan, dan pengembangan pariwisata dan industri kreatif.

“Identifikasi ketiga sektor prioritas ini juga relatif sejalan dengan fokus sektor yang dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan,” katanya.

Menurut Herawanto, hilirisasi minyak kelapa sawit sebagai salah satu sektor prioritas berpotensi untuk terus dikembangkan. Saat ini minyak kelapa sawit di Kalimantan Selatan telah diolah menjadi minyak goreng dan biodiesel.

“Pemanfaatan biodiesel semakin membesar seiring perluasan implementasi program B20-B30 Pemerintah, khususnya sejak akhir 2018,” ujarnya.

 

Herawanto menjelaskan, berdasarkan penelitian terkini, minyak kelapa sawit juga dapat diolah menjadi biofuel berupa premium nabati. Implementasi biodiesel maupun biofuel berupa premium nabati berpotensi mengurangi kebutuhan impor BBM sekaligus menjadi sumber baru permintaan terhadap produk olahan minyak kelapa sawit.

“Hal ini juga akan menjadi alternatif pasar di tengah tantangan pemasaran ke Uni Eropa yang kembali mendapat hambatan,” ujarnya.

 

Kegiatan seminar juga dihadiri Sekda Kalsel serta beberapa narasumber yang berkompeten yaitu: Ekonom Ahli Bank Indonesia Kalimantan Selatan, Bp. MHA Ridhwan, guna memberikan pandangan perkembangan terkini perekonomian Kalimantan Selatan, hasil riset Growth Diagnostic dan Growth Strategy Kalimantan Selatan, serta pengembangan sektor prioritas sumber baru pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan.

Peneliti Badan Pengkajian dan Penelitian Teknologi (BPPT), Bp. Dr. Ir. Erlan Rosyadi, M.En, guna memberikan pandangan Hasil riset pengolahan minyak kelapa sawit menjadi biofuel dan kelayakan pengaplikasiannya pada mesin kendaraan, serta rencana tahapan implementasi Biodiesel dan Biofuel terkait Peta Jalan Bauran Energi Nasional.

Ketua Bidang Hukum dan Hubungan Kelembagaan APROBI (Asosiasi Pengusaha Biofuel Indonesia), Bp. Manumpak Manurung, guna memberikan pandangan mengenai Strategi perusahaan dan/atau industri nasional dalam hilirisasi minyak kelapa sawit, perkembangan terkini tren produksi biodiesel nasional, peluang pasar pengembangan biodiesel dan biofuel: nasional dan luar negeri, serta tantangan pengembangan dan pemasaran biodiesel dan biofuel. Rel

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed