oleh

Menimba Informasi Budidaya Bawang Merah dan Pasca Panen

BANJARMASIN – Untuk mendapatkan informasi mengenai adopsi teknologi tanaman hortikultura, baik budidaya dan pasca panennya, Balai Benih TPH Provinsi KalSel  sebanyak 18 orang berkunjung ke kelompok Penangkar Benih Bawang Merah Sumber Makmur  di Desa Sumber Rejo Kecamatan Gondang KabupatenNganjuk Jawa Timur, Rabu (7 /8/2019).

“Tujuan adopsi teknologi bawang merah ini adalah untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya dalam budidaya bawang merah dan pasca panennya,” ujar Ir. M. Birumdhani F Kepala Balai Benih TPH prov Kalsel

Menurut Birumdhani, pada saat kunjungan kerja menteri pertanian ke Kalsel  tahun 2015 bertepatan dengan tingginya  harga bawang merah konsumsi dipasaran, maka pak menteri meminta provinsi Kalsel bersedia mengembangkan bawang merah di  beberapa Kabupaten di KalSel khusus nya kabupaten Tapin.

Dikatakan Birumdhani, Balai Benih TPH Prov KalSel TA 2019 ini mendapatkan alokasi perbanyakan  benih bawang merah seluas  4 ha, Jadi tujuan  berkunjung ke nganjuk  adalah belajar langsung di lokasi sentra bawang merah di Indonesia.

“Dengan melibatkan staf teknik hortikultura, staf laboratorium dan Unit Produksi Benih (UPB) hortikultura Sungkai. Agar dapat mengetahui budidaya perbanyakan benih sumber bawang merah dan penanganan pasca panennya,” jelasnya.

Birumdhani mengatakan, produsen bawang merah, Yusuf dari Kabupaten Nganjuk, yang sudah 6-7 tahun menjadi produsen, siap melayani permintaan benih bawang merah yang  bersertifikat. Kabupaten  Nganjuk dalam budidaya bawang merah menggunakan pola 1 tahun 3 kali tanam, 2 kali tanam bawang 1 kali padi.

“Kesuburan tanah masih terjaga, agar mendapatkan hasil yang baik, maka kekompakan dalam menanam bawang perlu di jaga. Agar pengendalian hama penyakit bisa dikendalikan dengan baik, termasuk dalam pemanfaatan penggunaan air di musim kemarau,” ungkap Birumdhani.

Di Nganjuk, musim kemarau Sumur bor minimal kedalamannya 300 meter, lanjut Birumdhani sehingga pemilik sumur diajak bersama sama dalam urun rembuk tanam bawang, hal ini penting agar bisa  berhasil tanam. Saat ini tanam serempak tanggal 20  ke atas bulan agustus, agar penggunaan air di musim kemarau bisa diatur dengan baik.

Sementara Yusuf produsen bawang merah menyampaikan, pola tanam bawang penangkar  berbeda dengan petani jual konsumsi,  dalam hal dalam proses pemupukan, karena benih bawang merah dibuat tidak besar karena agar ditanam petani akan besar, Jadi benih sengaja dibuat kecil,  agar ketika ditanam petani buat konsumsi hasilnya besar-besar.

“Saat ini varietas yang ditanam, adalah Varietas Tajuk (Tanaman Nganjuk) yang menghasilkan 18 – 24 ton/ha tanam di musim kemarau. Supaya hasil produktivitas maksimal,” katanya.

Diungkapkan Yusuf, harga bawang saat ini di Nganjuk hanya Rp7 ribu perkilo untuk harga konsumsi, biasanya 13ribu/kilo kemungkinan sebentar lagi akan panen raya, sehingga harga bisa turun lagi Rp5 ribu/ha.

Sementara harga benih bersertifikat biasa jual 28-32ribu/ha, saat ini hanya Rp25 – 28ribu/ha. Tapi benih sumber bawang merah di penangkar ini tetap bisa memenuhi keperluan benih untuk di tanam di petani sekitar Nganjuk dan keluar provinsi JatIm.

Yusuf menambahkan, penggunaan pestisida dilihat penyakitnya, kalau tidak ada penyakit tidak perlu disemprot, hal ini meminimalkan biaya produksi untuk mendapatkan hasil maksimal. Pemupukan dilakukan 3-4 kali selama musim tanam. Jangan salah menggunakan herbisida, gunakan sesuai petunjuk yang ada, jangan terlalu banyak. Pascapanen untuk perbenihan, apabila menghadapi musim penghujan, maka letakkan bawang merah di para-para/rak, minimal harus kering untuk benih. Antra 10-15 hari dalam menjemur bawang. Setelah kering diikat, dalam penyimpanan harus dikasih pestisida.

“Semoga dengan adanya pembelajaran langsung ke lokasi sentra bawang di Nganjuk, maka perbanyakan benih sumber diharapkan di Balai Benih Kalsel bisa berhasil lebih baik lagi dibandingkan tahun sebelumnya” ujar Ir. M Birumdhani, F

#Yana2019balaibenih

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed