oleh

Polres dan Pemkab Tapin Fasilitasi Dua Desa Di Bungur Terkait Sengketa Batas Lahan

-TAPIN-11 views

RANTAU,- Polres Tapin memfasilitasi pertemuan dua desa antara Desa Shabah dan Desa Kalumpang di wilayah Kecamatan Bungur Kabupaten Tapin. Kamis (4/6) pagi, bertempat di ruang Aula Namora Tapin.

Kedua desa ini terjebak persoalan diranah hukum bidang perdata di republik Indonesia yang pelik diselesaikan dari mulai rumah tangga sasaran seperti sengketa batas hingga rebutan warisan. Sementara kedua desa ini sengketa lahan batas wilayah antara desa Shabah dan Desa Kelumpang, kedua desa itu saling mengklaim bahwa lahan yang masuk dalam areal tambang batu bara perusahaan EBL PT.Hasnur itu miliknya.

Dalam rapat tapal batas wilayah desa Shabah dan Desa Kelumpang dihadiri kedua kubu masing-masing desa diwakili tokoh masyarakat nya, juga Pemerintah Kabupaten Tapin dihadiri Asisten GT.Jaya , Camat Bungur Rahmadi, Kapolsek Bungur IPTU.Catur Widianto, juga hadir personil dari satuan Reskrim Polres Tapin dan perwakilan EBL Perusahaan PT.Hasnur.

Menurut informasi yang diperoleh Infobanua dilapangkan persoalan ini sempat terjadi demontrasi warga desa ke perusahaan tambang beberapa pekan lalu, dan kini ditindaklanjuti di Polres Tapin bersama Pemerintah Kabupaten Tapin. Tidak terjadi bentrok fisik diantara mereka hanya kegusaran satu sama lain.

Demikian hasil rapat yang diperoleh hari ini tak juga memperoleh penyelesaian serta kepuasan pihak masyarakat kedua desa yang hadir memenuhi undangan. Sebagaimana diutarakan Heri warga Desa Shabah Kecamatan Bungur, “acuan peta yang digunakan Pemerintah Kabupaten Tapin itu peta tahun 1994 dalam mengukur batas wilayah itu, sehingga tidak sesuai,”katanya.

“Selain itu juga kami disuruh keluar ruangan rapat oleh camat, kalau begitu untuk apa juga kami disini,”tambah warga lainnya.

Diwawancarai terkait persoalan ini, Asisten Pemkab Tapin GT.Jaya mengatakan, “titik-titik mana saja yang jadi klaim kedua desa setelah kita cek dilapangan dengan mengacu peta tahun 1994 dan ternyata memang melenceng dibeberapa titik seperti Sabah ke Kelumpang demikian sebaliknya Kelumpang ke Shabah.Sehingga rapat pada hari ini masih belum ada kesepakatan,”katanya kepada infobanua.

“Kedepannya akan kita lanjutkan lagi dengan menyelenggarakan sosialisasi kepada masyarakat dan terkait peta tahun 1994 yang kita gunakan memang acuan kami dalam mengukur batas lahan. Peta ini bukan peta baku atau peta dasar, dan mungkin mereka masih salah faham tentang peta 1994 yang kita gunakan sebagai acuan,”pungkasnya.

Reporter Nasrullah

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed