oleh

Ponpes Kabupaten Blitar, Sulit Untuk Menerapkan New Normal

Blitar, Infobanua.co.id – Minggu ketiga bulan Juli mendatang era new normal atau hidup normal akan segera dimulai.

Tapi rupanya penerapan hidup normal di lingkungan Pondok Pesantren (Ponpes) di wilayah Kabupaten Blitar, masih sulit dilakukan.

Pasalnya hingga saat ini Kemenag Kabupaten Blitar masih berupaya menemukan formula yang tepat.

“Pendidikan di pesantren cukup spesifik, formulasi new normal cukup sulit,” kata Humas Kemenag Kabupaten Blitar, Jamil Mashudi, kepada awak media, Kamis 04-06-2020.

Menurut Jamil bahwa, jumlah ponpes di Kabupaten Blitar dengan kategori kecil, sedang dan besar, sebanyak 133 Ponpes.

Beberapa Ponpes menerapkan pola pendidikan modern. Namun tidak sedikit yang masih mempertahankan gaya pendidikan salafiyah atau tradisional, yang itu menjadi salah satu pertimbangan bagaimana menerapkan  formula new normal yang tepat.

Karena formulasinya belum ditemukan, hingga saat ini, belum ada santri yang kembali ke pondok pesantren.

“Dipastikan belum ada santri yang masuk kembali ke pesantren,” jlentreh Jamil Mashadi.

Karena menuju new normal sebagai kebutuhan yang mendesak, yaitu terkait skema atau skenario yang dijalankan, menurut Jamil, kemenag dan pemkab Blitar terus melakukan kajian intensif.

Prinsipnya, aktivitas pendidikan di lingkungan pondok pesantren kembali berjalan, namun santri juga dipastikan aman dari penyebaran pandemik covid-19.

“Yang dibutuhkan adalah kedisiplinan bersama, yakni terutama dalam menjalankan protokol kesehatan,” terangnya.

Menanggapi pelaksanaan new normal di lingkungan pesantren, anggota DPRD Kabupaten Blitar dari Fraksi PKB, Idris Marbawi meminta agar P.emerintah memberikan perhatian khusus. Perhatian khusus tersebut terkait kebijakan anggaran untuk pelaksanaan protokol kesehatan.

Hal itu mengingat masih banyak pesantren di Kabupaten Blitar yang belum memiliki fasilitas perlindungan diri seperti masker, thermo gun, handsanitizer dan disinfektan.

“Tujuannya jangan sampai pesantren menjadi klaster baru penyebaran covid-19,” pintanya. (Eko.B).