Menelik Penyebab Krisis Karakter Siswa Ditengah Pandemi Dari Media Sosial

oleh -9 views

Penulis : Muhammad Khairunnas

Corona virus disease 19 (covid-19) yang mengguncang dunia sejak awal tahun 2020 samespai hari ini masih saja menunjukkan tren kenaikan pasien positif, per 13 juni 2020 jumlah pasien positif covid-19 dunia 7.724.555, sedangkan di indonesia per 14 juni 2020 sudah sebanyak 38.277 kasus positif terinfeksi covid-19 (Kompas. 2020).

Pemerintah indonesia sejak awal ada warga indonesia yang dinyatakan positif terpapar covid-19 langsung melakukan langkah-langkah strategis guna untuk menghentikan penyebarannya, seperti dengan mengeluarkan himbauan sosial dan pshycal distancing, selalu menggunakan masker, menjauhi keramaian, menutup tempat wisata bahkan pemberhentian sementara ibadah di masjid.

Akan tetapi nampaknya beberapa usaha dari pemerintah tersebut tidak begitu berpengaruh dalam pemutusan mata rantai virus corona, sebab dengan masih adanya kenaikan kasus pasien terpapar virus setiap harinya.

Sebenarnya kalau dilihat dengan lebih teliti, langkah-langkah yang telah dikeluarkan pemerintah untuk pemutusan rantai virus corona sudah baik, bahkan majelis ulama indonesia (MUI) telah mengeluarkan maklumat terkait dukungan terhadap usaha pemerintah tersebut, akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah ketidakpatuhan masyarakat dalam mengikuti himbauan dari pemerintah tersebut.

Berbagai macam reaksi masyarakat dalam menanggapi himbauan dari pemerintah, ada yang mengikuti himbauan tersebut, ada yang ragu dan setengah-setengah dalam mengikuti himbauan dan ada yang tidak mau sedikitpun mendengarkan himbauan dari pemerintah tersebut.

Banyak oknum yang memberikan kritikan terhadap langkah pemerintah dalam menangani penyebaran virus corona, akan tetapi tidak sedikit juga yang mempertanyakan kebijakan yang ada bahkan sampai menghujat dan menghina. Dan hal itu banyak terjadi di media sosial seperti facebook, instagram, twitter dan yang lain. Berbagai komentar yang dilontarkan masyarakat yang disebut netizen dalam dunia maya(Wikipedia, 2020) seperti hinaan, cacian bahkan bulian.

Seakan netizen yang melakukan hal tersebut tidak mengetahui bahwa yang akan melihat komentar tersebut tidak hanya orang dewasa saja, karena pada hari ini yang menggunakan media sosial tidak dari kalangan dewasa saja tetapi dari anak-anak dari tingkatan SMA bahkan anak Sekolah Dasar telah menggunakan media sosial(Republika, 2019).

Itulah yang dilihat dan perhatikan oleh anak-anak di media sosial, seolah mereka belajar bagaimana cara mencaci yang baik, bagaimana cara mencemooh orang lain dan yang sering sekali terjadi hari ini yaitu bullying.

Bagaimana bullying sering terjadi di sekolah(Republika, 2020), terakhir kejadian bullying terjadi di sulawesi selatan tepatnya di kecamatan ma’rang, seorang anak berusia 12 tahun menjadi korban bullying atau perundungan yang dilakukan oleh sekelompok pemuda.

Kejadian ini viral dimedia sosial sehingga banyak orang yang mengecam perbuatan tersebut (TribunNews, 2020).
Tidak heran masalah karakter siswa pada hari begitu menghawatirkan, seolah mereka sudah terbiasa dengan kata-kata kotor. Karena itulah yang sering mereka perhatikan di media sosial.

Hari ini banyak pertanyaan muncul dari masyarakat, mengapa sopan santun anak-anak hari ini sangat kurang, tingkah lakunya sangat buruk?.
Menteri pendidikan dan kebudayaan bapak Nadiem Makarim dalam wawancaranya dengan Deddy Corbuzier menyatakan bahwa penyebab sering terjadinya bully di sekolah adalah anak-anak tersebut telah belajar banyak tentang bagaimana membully yang baik dari media sosial.

Beliau ditanya kenapa disekolah sering terjadi bully, kata beliau “sudah lihat media sosial belum?”(Lihat Youtube Deddy Corbuzier, 2020).
Ditengah pandemi hari ini umat kebingungan dalam menjalankan aktivitas ibadah yang biasanya bisa dengan bebas dapat beribadah ke masjid tanpa halangan sedikitpun akan tetapi sekarang ada aturan-aturan yang harus diikuti.

Oleh karena itu untuk membimbing umat agar tidak bingung MUI tampil untuk membantu umat menjalankan ibadah dalam kondisi wabah tidak terkecuali MUI Sumatera Barat, sampai pada hari ini MUI Sumatera Barat telah mengeluarkan maklumat dari maklumat 001 sampai 007 terkait ibadah disaat wabah, tidak sampai disitu saja ketua MUI Sematera Barat selalu hadir ditengah umat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan umat.

Karena disaat pandemi tidak dianjurkan untuk mengumpulkan orang begitu juga dengan pengajian, maka ketua MUI Sematera Barat lebih menggunakan media sosial seperti Facebook untuk memberikan arahan kepada umat.

Karena permasalahan pandemi saat ini arahan yang diberikan disesuaikan dengan kondisi real yang ada, akan tetapi karena umat tidak terbiasa dengan hal itu sehingga menjadi hal yang baru maka tidak sedikit juga yang mempertanyakan arahan yang diberikan oleh ulama tersebut bahkan sampai ada yang menghujat dengan kata-kata yang kasar kepada beliau di media sosial(Lihat akun Facebook Buya Gusrizal Gazahar).

Bahkan ulama saja bisa dengan mudah dicaci dan dihina yang sebenarnya hal tersebut tidak pantas sama sekali dipakaikan kepada beliau.

Sadarkah orang-orang dewasa hari ini bahwa semua itu dilihat dan diperhatikan oleh anak-anak dimedia sosial, mereka menjadikan hal itu sebagai bahan pengajaran untuk menjadi kurang ajar.

Anak-anak tidak pernah salah, mereka hanya mengikuti apa yang orang dewasa lakukan, mereka menjadikan orang-orang dewasa sebagai panutannya dan orang yang patut ditiru. Maka tidak salah pada hari ini karakter anak-anak sangat buruk karena buruknya perilaku orang dewasa dalam media sosial.

Mahasiswa Pascasarjana MPI IAIN Batusangkar

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.