oleh

Bupati Tulungagung : Tradisi Adat Ulur-Ulur Merupakan Kearifan Lokal Yang Harus Dijaga dan Dilestarikan

Tulungagung, Infobanua.co.id- Bupati Tulungagung,Maryoto Birowo,hadiri upacara adat budaya Jawa Ulur-Ulur yang digelar oleh warga dari empat desa diwilayah Kecamatan Campurdarat, diantaranya Desa Gedangan,Desa Sawo,Desa Gamping dan Desa Ngentrong ,Jumat (26/6/2020).

Dalam giat tersebut, Bupati Maryoto Birowo didampingi Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Tulungagung, Plt.Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Tulungagung serta anggota Forkopimcam Kecamatan Campurdarat.

Bupati Tulungagung Maryoto Birowo dalam sambutanya mengatakan, bahwa tradisi adat ulur-ulur merupakan  kearifan lokal yang harus dijaga dan dilestarikan

Berbeda dengan tahun sebelumnya, pada tahun 2020 ini, upacara adat ulur-ulur dilaksanakan dengan sederhana yaitu diisi dengan kenduri bersama disekitar Telaga Buret, Desa Sawo kemudian dilanjutkan dengan tabur bunga didalam telaga Buret sebagai simbol pelestarian lingkungan.

Upacara adat ulur-ulur diadakan  setiap tahun yaitu tepatnya pada hari Jum’at pon atau Jum’at legi pada bulan Selo dalam penanggalan jawa.

Panitia kegiatan dalam upacara adat ulur-ulur ini mengikuti anjuran pemerintah tentang protokol kesehatan didalam menangani penyebaran pandemi  Covid-19 di Indonesia khususnya di wilayah Kabupaten Tulungagung. Sehingga tradisi yang sudah turun temurun ini dilaksanakan dengan sederhana dan undangan dibatasi.

Sesepuh Paguyuban Sendang Tirto Mulyo menuturkan bahwa tradisi upacara adat ulur – ulur ini merupakan tradisi tahunan yang diselenggarakan warga empat desa di kecamatan Campurdarat.

“Setiap tahun, warga Desa Sawo, Gamping, Gedangan, dan Ngentrong selalu melakukan tradisi ini, karena telaga buret ini dianggap sumber kehidupan dari warga sendiri, selain itu acara ini juga untuk melestarikan peninggalan leluhur,” ucapnya

Sesepuh Paguyuban ini juga mengatakan bahwa fungsi dari telaga Buret sejak dulu dan turun temurun memang sebagai sumber air bagi lahan pertanian warga setempat.

” Karena itu tradisi ini juga dianggap sebagai ungkapan wujud syukur warga kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi  anugrah berupa sumber mata air yang tidak pernah surut meskipun sedang terjadi kemarau panjang” ujar nya.

penulis : Sarno

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed