oleh

Tradisi Malamang Masih Bertahan di Pesisir Selatan Menyambut Lebaran

Pesisir Selatan (Sumbar), Infobanua.co.id – Menyambut datangnya hari raya Idul Fitri 1442 H, masyarakat di Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatera Barat, melakukan tradisi malamang.

Salah seorang warga Tusni (38) mengatakan tradisi atau kebiasaan malamang sudah dilakukan sejak zaman nenek moyangnya.

Dimana, kebiasaan itu terus dilakukan saat penyambutan hari-hari besar islam seperti, menyambut hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.

“Setiap hari Idul Fitri dan Idul Adha, kami pasti malamang. Karena, sudah menjadi tradisi kami sejak jaman dulu,” ungkapnya pada Infobanua.co.id, Rabu (12/5).

Kemudian katanya, lamang yang sudah dimasak nantinya akan diantarkan ke rumah sanak saudaranya.

Selain diantarkan ke sanak saudaranya, lamang juga diperuntukkan sebagai penyambut tamu yang datang bermaaf-maafan ke rumah mereka.

Warga lainnya, Aitri (26) menerangkan, cara pembuatan lamang yaitunya menggunakan bahan-bahan yang sederhana.

Pertama, bahan yang digunakan adalah beras katan yang dibasuh setelah itu dikeringkan

Kemudian, beras katan itu dimasukkan kedalam potongan bambu sepanjang 1 meter yang dialas dengan daun pisang.

Selanjutnya, beras katan yang sudah dimasukkan ke dalam bambu, dikasih santan kelapa yang telah diaduk bersama garam, vanile secukupnya.

“Lalu, lamang siap dimasak dengan cara dibakar selama lima jam, sampai lamang benar-benar matang,”ucapnya

Ia menambahkan, lamang yang biasa dibuat oleh warga setempat itu, tidak hanya lamang katan saja. Namun, ada beberapa jenis lamang yang biasa dibuat oleh warga setempat.

“Ada lamang tepung dengan bahan pisang, ada lamang ketan hitam dan putih serta ada lamang luo atau lamang yang berisi pemanis campuran gula merah dengan kelapa yang sudah dikikis,” katanya.

Lanjutnya, meski ditengah pandemi Covid-19, tradisi malamang untuk menyambut kedatangan Idul Fitri masih tetap dilakukan sebagian warga di kecamatan itu.

Sebab, tradisi ini sudah menjadi kebiasaan yang tidak pernah ditinggalkan oleh warga sekitar.

“Hampir seluruh warga kita melakukan tradisi malamang meski ditengah pandemi. Jika ada yang tidak, mungkin hanya sebagian,” pungkasnya. (Robi)