oleh

JKN-KIS Berhasil Meningkatkan Angka Harapan Hidup dan Menyelamatkan Masyarakat dari Kemiskinan

 

Oleh IDA YUSNITA *)

Kehadiran Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) dan Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial Kesehatan yang lebih populer dikenal dengan nama BPJS Kesehatan. Yang merupakan layanan proteksi kesehatan yang cukup terjangkau dengan manfaat yang sangat beragam. Memberikan keuntungan dan manfaat yang sudah dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia.  Program JKN-KIS bukti nyata perhatian pemerintah terhadap Kesehatan warganya. Negara hadir mewujudkan biaya berobat yang murah.

Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) sangat membantu masyarakat. Dan hingga kini 82% penduduk sudah terlindungi dan terus meningkat dari waktu ke waktu. Beberapa manfaat dari program ini diantaranya:
1. Meningkatkan angka harapan hidup hingga 2.9 tahun.
2. Menyelamatkan 1.16 juta orang dari kemiskinan.
3. Melindungi 14.5 juta orang miskin dari kemiskinan yang lebih parah.
4. Berkontribusi terhadap perekonomian negara sebesar 152,2 Triliun Rupiah dan diproyeksikan bisa mencapai 289 Triliun Rupiah pada 2021.

Wartawan media online: infobanua.co.id berhasil melakukan wawancara kepada peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) di Provinsi Kalimantan Selatan yang sudah merasakan manfaatnya.

Mayoritas peserta program ini menilai sebagai sebuah anugerah bagi mereka. Contohnya, Masliana warga Kota Banjarmasin sebagai peserta JKN-KIS dari segmen PBI APBN telah memanfaatkan JKN-KIS hingga saat ini untuk pengobatan TB paru.

Ditemui saat sedang melakukan kontrol di rumah sakit, Selasa (31/12/2021), Masliana menyampaikan betapa beruntungnya dirinya telah didaftarkan oleh pemerintah ke dalam program JKN-KIS ini.

Program JKN-KIS Makin Dirasakan Manfaatnya di Kala Pandemi

Masliana (41), warga Kecamatan Banjarmasin Timur Kota Banjarmasin ini mengaku semakin merasakan manfaat program Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) saat masa pandemi Covid-19. Pasalnya, akibat pandemi Covid-19, sejumlah obat jika beli di apotek mengalami kenaikan.

Pengalaman Masliana, ikhwal naiknya harga sejumlah obat saat pandemi dialami belum lama ini. Masliana mengaku sempat alami drop selama satu pekan. Ibu dua anak mengalami demam dan pusing di bagian kepala. Di sisi lain,  Masliana membaca di pemberitaan jika sejumlah obat alami kenaikan harga. “Saya kemarin diagnosanya kena penyakit paru dan kelelahan karena waktu istirahat berkurang, ditambah karena cuaca juga sedang tidak bersahabat,” ujarnya.

Beruntung, Maslianan  telah terdaftar sebagai peserta JKN-KIS, obat yang seharusnya ia beli di apotek bisa didapatkan gratis dengan menggunakan kartu kepesertaan JKN-KIS setelah dirinya berkunjung dari fasilitas kesehatan dekat rumahnya. “Awalnya memang saya berobat di Puskesmas tempat saya terdaftar. Tapi, menurut petugas kesehatan di sana harus menebus obat di apotek. Setelah saya pergi menebus obatnya, saya kaget bahwa obatnya saya dapatkan secara gratis. Bukan hanya itu, pengobatan saya di Puskesmas juga tanpa biaya,” ujarnya.

Kendati sebagai peserta BPJS Kesehatan yang ditanggung oleh pemerintah, Masliana mengaku tidak mendapatkan perbedaan pelayanan medis baik saat di Puskesmas, maupun di rumah sakit. Masliana mengaku tetap dilayani sebagaimana mestinya, tanpa ada hal lain yang menyusahkan. “Pelayanan berjalan seperti biasanya tidak ada perbedaan, dan obat juga dapat tanpa membayar lagi,” ujarnya.

Masliana menilai saat pandemi kita perlu menjaga imun, salah satunya dengan tidak terlalu banyak pikiran. Maslianan sendiri terdaftar sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI APBD) pemerintah Kota Banjarmasin, yang iurannya dibayarkan oleh pemerintah dengan hak rawat inap kelas 3.

“Kalau harus mikirin beli obat juga, waduh bisa makin drop imun. Bersyukur banget ada Program JKN-KIS. Kalau bisa program ini terus ada jangan dihentikan, BPJS kan kita iuran gak seberapa, tapi kita bisa berobat gratis, dirawat juga gratis,” ujarnya.

Masliana mengaku bersyukur karena pemerintah memperhatikan masyarkat kurang mampu seperti saya. Saya sudah memanfaatkan kartu KIS ini berulang kali, awalnya saya rutin kontrol di puskesmas karena saya mengalami batuk yang lumayan menyakitkan. Setelah beberapa kali berobat di puskesmas dan tidak ada perubahan, akhirnya saya dirujuk dan didagnosa TB Paru. Dan hingga saat ini saya berobat semua biaya itu ditanggung oleh JKN-KIS,” ujar Masliana.

Masliana menyampaikan awal dirinya menggunakan JKN-KIS untuk keperluan bersalin di rumah sakit. Karena membutuhkan penanganan darurat akhirnya dibawa ke rumah sakit terdekat saat itu. “Memang kali pertama saya gunakan kartu KIS ini untuk melahirkan, saya sampai harus rawat inap beberapa hari karena kondisi saya yang tidak kunjung stabil. Saat menerima pelayanan selama melahirkan di rumah sakit, hati saya sempat tidak tenang dan terpikirkan akan biaya yang harus saya bayar selama di rumah sakit. Setelah saya dinyatakan oleh dokter boleh pulang betapa terkejut sekaligus bersyukur saat mengetahui semua biaya pelayanan yang saya terima sudah dijamin melalui program JKN-KIS. Sungguh sangat luar biasa bantuan dari pemerintah ini,” kata Masliana kembali membagikan pengalamannya.

Di akhir perbincangan, Masliana kembali menyampaikan terima kasihnya kepada pemerintah yang telah memperhatikan kesehatan seluruh masyarakat termasuk dirinya sehingga tidak perlu lagi memikirkan biaya berobat ketika mengalami sakit. “Beban keluarga saya sungguh sangat berkurang berkat bantuan pemerintah ini. Dengan didaftarkannya saya sekeluarga menjadi peserta JKN-KIS dan iuran yang dibayarkan oleh pemerintah, kami semua jadi tidak perlu khawatir apabila kita harus berobat ke dokter. Mungkin saya tidak akan bisa berobat rutin seperti sekarang bila tidak ada program ini. Semoga program JKN-KIS dapat terus ada untuk membantu seluruh orang.” Tutup Masliana.

Jaini Rasakan Manfaat Jadi Peserta JKN-KIS

Jaini (60) adalah salah satu peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) yang telah merasakan langsung manfaat besar dari program ini. Jaini yang terdaftar sebagai peserta JKN-KIS segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) harus rutin setiap bulannya berkunjung ke rumah sakit untuk kontrol di poli jantung.

Jaini mengungkapkan betapa beruntungnya dia karena telah terdaftar menjadi peserta JKN-KIS. “Saat ini saya sedang rutin kontrol di poli jantung dan minimal sebulan sekali pasti saya ada berkunjung ke rumah sakit untuk melakukan kontrol jantung ini dan tentunya saya menggunakan kartu KIS ini,” katanya.

Jaini berkata, sebelumnya dirinya melakukan kemoterapi sebanyak 9 kali dan semuanya ditanggung oleh program JKN-KIS ini tanpa ada masalah pelayanan yang saya alami. Dan sampai sekarang pun saya masih harus bergantung kepada program ini karena harus melakukan kontrol jantung secara rutin. “Bayangkan berapa biaya yang sudah saya habiskan apabila tidak ada program ini. Pastinya saya kesulitan bila harus disuruh bayar secara mandiri. Beruntungnya ada program ini dan saya sudah menjadi pesertanya,” ujar Jaini.

Lebih lanjut Jaini mengungkapkan pelayanan yang ia terima mulai dari berobat pertama kali di puskesmas hingga harus rutin ke rumah sakit secara keseluruhan sudah baik. “Pastinya mudah jika sesuai prosedurnya, mulai awal saya berobat di puskesmas dan harus dirujuk ke rumah sakit, Alhamdulillah tidak seperti info yang saya dapatkan di luar sana, yang katanya pelayanan akan dibedakan bila menggunakan kartu KIS. Nyatanya saya tetap dilayani dengan baik walaupun berobat menggunakan KIS di Puskesmas sampai dengan sekarang di rumah sakit ini.” ujar Jaini.

Menurutnya masih banyak masyarakat yang belum sadar pentingnya program ini karena mereka belum membutuhkannya. Disela pendapatnya Jaini pun turut menyampaikan harapannya kepada masyarakat yang masih belum terdaftar ataupun membayar iuran tepat waktu.

“Wajar bila banyak yang belum mau mendaftar karena mereka masih belum mengetahui manfaat yang sebenarnya dari program ini. Berbeda dengan saya yang menggantungkan pengobatan kesehatan saya pada program ini sehingga saya tahu benar betapa besar dan pentingnya program JKN-KIS ini. Saya berharap masyarakat dapat segera sadar pentingnya program ini tanpa harus menunggu sakit terlebih dahulu. Walaupun tidak sakit tidak ada ruginya, karena dengan begitu kita bisa menolong sesama kita yang sedang membutuhkan di luar sana, termasuk saya. Pastinya tidak ada orang yang ingin dirinya sakit,” kata Jaini.

Rutin Gunakan Program JKN-KIS, Pelayanan Semakin Baik

Banyak peserta JKN-KIS yang terbantu dan bergantung pada program ini untuk mengakses pelayanan kesehatan, salah satunya yakni Yamimah. Saat ditemui Yamimah yang sedang menunggu antrian pelayanan di salah satu rumah sakit yang berada di Kota Banjarmasin menyambut dengan ramah sembari membagikan pengalamannya saat menggunakan Program JKN-KIS untuk kebutuhannya berobat.

“Saya telah beberapa kali mengunakan kartu KIS ini untuk berobat, dulunya hanya di puskesmas saja, hingga akhirnya saya didiagnosa ada masalah pada jantung saya dan harus dirujuk di rumah sakit. Dan saat kontrol di rumah sakit ternyata ada masalah baru lagi pada diri saya yakni indikasi terbentuknya kista. Kontrol rutin pun harus semakin sering saya lakukan di rumah sakit, dan Alhamdulillah selama saya menjalani pengobatan dengan JKN-KIS tidak ada biaya yang harus saya keluarkan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.” Kata Yamimah.

Menurut Yamimah selama mendapatkan pengobatan baik saat di puskesmas maupun rumah sakit pelayanan yang diterimanya sudah sangat baik sama seperti yang diterima oleh pasien lainnya. Terlebih dengan adanya petugas BPJS SATU di rumah sakit peserta menjadi tidak khawatir bila menemui kendala. “Sudah pasti saya sangat terbantu dengan adanya program ini. Terlebih saya yang harus menerima pelayanan rutin di rumah sakit, tidak tau berapa biaya yang akan saya keluarkan bila tidak ada JKN-KIS, mungkin saya tidak akan bisa kontrol rutin seperti ini. Pelayanan yang saya terima juga sudah baik, ditambah BPJS Kesehatan menugaskan mas baju orange ini untuk siaga membantu peserta di rumah sakit, sudah pasti untuk pelayanan sudah sangat baik menurut saya,” kata Yamimah.

Diakhir perjumpaan Yamimah menyampaikan harapannya agar Program JKN-KIS  dapat selalu memberikan pelayanan yang terbaik dan selalu ada untuk membantu masyarakat ketika ingin mendapatkan pelayanan kesehatan namun masih tekendala biaya.

Iuran Paryanti Dibantu Pemerintah

Manfaat program JKN-KIS juga diceritakan oleh Paryanti (48) warga Magelang yang merupakan peserta Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) di segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI). Ia pun membagikan kisahnya kala memanfaatkan JKN-KIS untuk melindungi kesehatannya. Waktu itu malam hari badannya sangat panas, kemudian oleh keluarganya diantar ke Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit di Kota Magelang, dan langsung ditangani oleh tim medis.

“Waktu itu sekitar pukul 21.00 WIB, saya merasakan panas badan dan mual-mual, tanpa pikir panjang saat itu juga saya langsung dibawa keluarga untuk periksa di rumah sakit dan langsung ditangani di UGD, dan saat itu disarankan untuk rawat inap,” ungkap Paryanti dalam keterangan tertulis, Rabu (30/12/2020).

Di rumah sakit, ibu tiga anak ini dirawat selama tiga hari dua malam. Ia pun tidak menemui hambatan selama menjalani pemeriksaan dan perawatan, dari masuk sampai pulang. Bahkan administrasinya juga menurutnya sangat mudah.

“Saat di UGD sempat ditanya apakah saya punya JKN-KIS atau tidak, dan semua petugas rumah sakit langsung melayani seperti biasa tanpa membedakan dengan pasien umum lainnya,” tambahnya

Paryanti yang juga masuk ke dalam segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang iurannya dibayarkan oleh Pemerintah Kabupaten Magelang merasa bersyukur karena pemerintah memperhatikan kesejahteraan masyarakat lewat JKN-KIS.

“Tidak dinyana keluarga saya diberikan jaminan kesehatan oleh pemerintah, sehingga kami tidak perlu repot-repot lagi harus membayar iuran setiap bulan,”tuturnya.

Ia berharap ke depannya pemerintah dapat mempertahankan program ini, karena jaminan kesehatan sangat dibutuhkan seluruh lapisan masyarakat. Ia juga berpesan agar masyarakat yang mampu selalu menyetor iurannya secara rutin setiap bulan. “Harapan saya, meskipun kita sudah memiliki JKN-KIS tetapi harus tetap sehat, disimpan saja kartunya untuk berjaga-jaga,” pungkasnya.

Penderita Ginjal Tertolong Lewat JKN-KIS

Sebagai perlindungan kesehatan, program Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) telah dirasakan manfaatnya oleh banyak masyarakat Indonesia, seperti yang dialami Hendrikus Arkian (43). Pria asal Melolo, Sumba Timur ini berbagi pengalamannya saat menggunakan kartu kepesertaan JKN-KIS untuk menjalani operasi tembak laser karena mengidap batu ginjal.

“Saya sempat kaget dengan tagihan rumah sakit yang tidak sedikit jumlahnya, jika saya tidak menjadi peserta JKN-KIS, saya harus mengeluarkan biaya hingga puluhan juta rupiah sendiri, beruntung saya sudah ada JKN-KIS, sehingga semua biaya dijamin penuh BPJS Kesehatan,” ungkap Hendrikus dalam keterangan tertulis, Rabu (30/12/2020).

Merasakan langsung manfaat dari JKN-KIS, Hendrikus atau yang akrab disapa Rendy ikut mengajak masyarakat yang belum menjadi peserta JKN-KIS untuk segera mendaftarkan diri. Hal ini agar sewaktu-waktu diperlukan saat sakit, masyarakat tidak perlu khawatir lagi akan mahalnya biaya pelayanan kesehatan.

“Berita negatif tentang JKN-KIS yang memberikan pelayanan yang buruk ternyata tidak benar. Semua pelayanan di fasilitas kesehatan menggunakan JKN-KIS semua berjalan optimal, dan saya telah membuktikan sendiri. Manfaat yang saya terima sangat besar, dimulai dari pelayanan yang optimal hingga lolos dari biaya pembayaran operasi,” terangnya.

Tidak lupa, Hendry berpesan agar masyarakat yang sudah menjadi peserta JKN-KIS rutin membayar iuran tepat waktu setiap bulannya, yakni sebelum tanggal 10 supaya kepesertaan JKN-KIS selalu aktif.

Di akhir perbincangan, dirinya menaruh harapan agar Program JKN-KIS terus ada di Indonesia untuk memberikan perlindungan jaminan kesehatan bagi seluruh masyarakat. “Terima kasih JKN-KIS, dengan gotong royong kita semua sehat bersama,” tutupnya.

Biaya Cuci Darah Adi Martadinata Dibantu JKN-KIS

Setahun lalu, Adi Martadinata dinyatakan harus menjalani cuci darah secara rutin dua kali dalam sepekan. Setiap Senin dan Kamis, Adi datang ke Rumah Sakit Imanuel Bandar Lampung tempatnya menjalani cuci darah.

“Saya sudah cuci darah sejak 1 Tahun 4 Bulan yang lalu, saya ingat betul gejala awal yang dirasakannya adalah muntah gak mau makan, kalau makan pasti muntah dan sakit kepala. Mungkin akibat kurang minum air putih, habis itu keseringan minuman berenergi seperti yang bersoda, minum obat keras dikarenakan sering pusing kepala, dan sering minum alkohol juga. Intinya saya dahulu sering mengkonsumsi makanan dan minuman yang tidak sehat,” cerita Adi dikutip dalam keterangan tertulis, Selasa (29/12/2020).

Warga Labuhan Dalam, Kota Bandar Lampung ini mengaku sempat kaget begitu divonis mengidap penyakit ginjal dan harus cuci darah. Ia dibayangi kekhawatiran akan keselamatan jiwanya, mengingat penyakit tersebut dapat berbuntut fatal. Selain itu, biaya cuci darah juga terbilang sangat mahal.

Namun, kekhawatiran Adi menyoal biaya cuci darah tersebut segera terhapuskan. Sebab, ia telah terdaftar sebagai peserta JKN-KIS sehingga seluruh biaya cuci darah tersebut ditanggung BPJS Kesehatan.

“Saat ini saya terdaftar sebagai peserta JKN-KIS mandiri kelas II. Memang sempat khawatir dan takut masalah biaya yang akan timbul akibat pengobatan yang saya jalani. Tapi luar biasanya, Program JKN-KIS menjamin semua biaya pengobatan cuci darah saya. Betapa senangnya hati saya dan tak henti-hentinya mengucap syukur dan terima kasih kepada BPJS Kesehatan yang mau menjamin seluruh biaya cuci darah,” ungkap Adi.

Pria berusia 35 tahun itu mengatakan sebagai peserta JKN-KIS dirinya tidak merasakan perbedaan kualitas pelayanan dari rumah sakit. Ia selalu mendapatkan pengobatan yang dibutuhkan, karena kartu JKN-KIS selalu aktif mengingat ia tidak pernah telat bayar iuran.

Menurut Adi manfaat yang didapatkan dari kepesertaan JKN-KIS lebih besar dibandingkan iuran yang dibayarkan setiap bulan. Ia pun dapat menikmati kemudahan berobat dengan tenang tanpa memikirkan biaya.

Penderita Thalasemia Terbatu dengan Adanya JKN-KIS

Mengidap penyakit yang tak bisa sembuh menjadi permasalahan pelik bagi sang penderita. Tak hanya memerlukan perawatan berkelanjutan, biaya pengobatan yang harus disiapkan pun tak terhingga jumlahnya. Hal ini dialami Theo Ivan Widianto (24), yang didiagnosa menderita Thalasemia sejak berusia dua tahun.

Awalnya, Theo didiagnosa anemia ketika ia mengalami panas demam terus menerus saat masih kecil. Namun, panas dan demamnya tak kunjung mereda meski sudah dilakukan transfusi darah.

“Dari situ kemudian dilakukan cek darah lengkap. Baru ketahuan bahwa saya menderita Thalasemia. Sejak saat itu lah orang tua saya terus melakukan berbagai cara untuk kesembuhan saya,” ungkap Theo dalam keterangan tertulis, Rabu (23/12/2020).

Thalasemia merupakan salah satu penyakit keturunan berupa kelainan darah. Seseorang bisa mengidap penyakit ini jika salah satu atau kedua orang tuanya mengidap thalasemia. Faktor ras dan etnis tertentu juga meningkatkan risiko penyakit thalasemia.

“Informasi yang kami terima saat itu, penyakit ini terjadi akibat kelainan pada faktor genetika, tetapi penyebab pasti mutasi gen ini bisa terjadi belum diketahui. Pada awalnya orang tua saya mengobati saya di Rumah Sakit (RS) swasta dengan biaya yang tidak sedikit. Bahkan untuk biaya, orang tua saya menjual aset dan barang-barang yang dimiliki keluarga karena pengobatan thalasemia cukup mahal,” ujar Theo.

Besarnya biaya pengobatan di RS Swasta membuat Theo beralih ke RS Dr. Soetomo yang biayanya relatif lebih rendah. Meski begitu, penyakit yang diidap Theo tetap memerlukan biaya yang besar. Di rumah sakit ini, Theo pun mendapat informasi mengenai Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS).

“Baru sekitar tahun 2014 atau 2015, dokter yang merawat saya di RS Soetomo menyarankan untuk mendaftar sebagai peserta program JKN-KIS dari pemerintah. Agar pengobatan saya dapat dijamin penuh, karena penyakit ini akan bersama saya terus sepanjang hidup,” terang Theo.

Sejak terdaftar sebagai peserta JKN-KIS segmen peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) dari Pemerintah Kota Surabaya, segala biaya perobatan dan perawatan Theo ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Ia merasa terbantu dengan adanya program JKN-KIS.

“Ya ibaratnya, hidup saya tergantung pada BPJS Kesehatan. Karena penderita thalasemia harus melakukan pengobatan seumur hidup. Sejauh ini pelayanan yang saya terima baik-baik saja, tidak ada diskriminasi sama sekali dan tidak dipersulit,” kata Theo.

Layanan kesehatan ini dimanfaatkannya setiap kali melakukan pengobatan per bulannya. Dalam sekali pengobatan, rata-rata Theo mengeluarkan biaya Rp 1,5 juta untuk perawatan dan Rp 6 juta untuk obat. Dalam satu bulan, Theo bisa tiga kali menjalani kontrol rawat jalan.

“Jadi bisa dibayangkan kalau tidak ada program JKN-KIS yang menjamin biaya pengobatan saya, tentu saya tidak dapat bertahan lebih lama, karena tentu kami mungkin telah kehabisan biaya untuk berobat. Terima kasih JKN-KIS!,” lanjutnya.

Alami Gangguan Jantung, Wanita Ini Andalkan JKN-KIS Berobat Rutin

Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) menjadi salah satu jaminan kesehatan di Indonesia yang menanggung berbagai macam penyakit. Manfaat JKN-KIS pun telah dirasakan oleh banyak orang, salah satunya Sulistyowati, warga Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Sejak empat bulan lalu, perempuan berusia 45 tahun itu didiagnosa mengalami gangguan jantung setelah melakukan general check up untuk keperluan ibadah haji.

“Saya harus rutin kontrol setiap bulan ke dokter karena ada masalah dengan jantung, namun tidak sepeserpun uang yang keluar karena saya memiliki Kartu BPJS Kesehatan dan menjadi peserta program JKN,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (23/12/2020).

Dia merasa nyaman dengan pelayanan yang diberikan pihak rumah sakit khususnya di bagian poli jantung. Terlebih, semua obat yang diterimanya tanpa harus membayar karena memanfaatkan program JKN-KIS tersebut.

“Alhamdulillah saya tidak perlu memikirkan biaya pengobatan dengan memiliki kartu BPJS Kesehatan karena ada teman juga yang mengalami gangguan jantung harus kontrol setiap bulan ke dokter dengan mengeluarkan biaya sekitar Rp 1 juta,” ungkapnya.

Diketahui, Sulistyowati merupakan salah satu peserta iuran bukan penerima upah atau PBPU mandiri kelas 2 sejak lama, namun kini turun kelas menjadi peserta mandiri kelas 3 karena berbagai faktor. Salah satunya pandemi yang membuat pendapatan keluarganya menurun.

Kendati demikian, ia tetap berupaya untuk tetap rutin membayar iuran. Hal ini lantaran dirinya menyadari pentingnya memastikan kartu yang dimiliki tetap aktif untuk kelancaran berobat.

“Diupayakan terus rutin bayar iuran. Saya rutin setiap bulan rawat jalan terus berobat sampai sekarang, pelayanannya luar biasa sekali. Saya merasa nyaman berobat dengan memanfaatkan Program JKN-KIS,” jelasnya,

Ia berharap Program JKN-KIS ke depannya selalu ada untuk memberikan manfaat pelayanan kesehatan kepada masyarakat karena program tersebut sangat dibutuhkan, apalagi di situasi pandemi COVID-19.

“Saya ucapkan terima kasih kepada BPJS Kesehatan. Program yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan itu harus terus hadir untuk menjamin kondisi kesehatan seluruh masyarakat,” pungkasnya.

JKN-KIS Bantu Petani di NTT Bebas Biaya Rawat Istri Pengidap TBC

Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) dari BPJS Kesehatan telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Hal ini terbukti dari banyaknya masyarakat yang terdaftar sebagai peserta JKN-KIS, diiringi meningkatnya angka kunjungan berobat di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) maupun rumah sakit dengan menggunakan kartu JKN-KIS.

Rui Mustika Dasilva Tavares (48), asal Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, merupakan satu dari penerima manfaat Program JKN-KIS segmen Penerima Bantuan Iuran. Pria yang berprofesi sebagai petani ini terbebas dari biaya puluhan juta berkat menggunakan KIS untuk berobat, ketika almarhumah istrinya sakit dan harus menjalani rawat inap selama 21 hari.

“Almarhumah istri saya dirawat di rumah sakit karena sakit tuberkulosis. Awalnya seperti ada benjolan di bagian tenggorokan, kemudian sering batuk-batuk. Batuk-batuknya ini sudah sejak bulan Juni sampai tidak bisa menelan makanan. Kami membawanya ke Puskesmas Haekesak terlebih dahulu. Setelah itu, kami mendapat rujukan untuk ke RSUD,” kenang pria yang akrab disapa Rui dalam keterangan tertulis, Selasa (22/12/2020).

Rui menjelaskan tidak ada biaya apapun yang harus dikeluarkannya sejak pertama sang istri menjalani rawat inap di rumah sakit pada Agustus lalu, hingga dinyatakan meninggal pada 26 September 2020. Jaminan kesehatan ini bisa dirasakan manfaatnya selama mengikuti prosedur yang berlaku.

Lebih lanjut, Rui mengungkapkan tidak ada perbedaan pelayanan kesehatan baik di puskesmas maupun rumah sakit. Keduanya dirasakan baik oleh Rui selama pengobatan sang istri berjalan.

“Menurut saya program ini sangat baik dan bagus, karena jika tidak menjadi peserta JKN-KIS, jujur saya tidak mampu membayar semua biaya perawatan yang didapatkan almarhumah istri saya. Jika saya hitung-hitung, bisa sampai puluhan juta biaya yang saya keluarkan jika tidak menjadi peserta JKN-KIS,” tuturnya.

Rui menutup kisahnya dengan harapan Program JKN-KIS dapat tetap berlangsung guna memberi akses pelayanan kesehatan kepada masyarakat, juga meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia.

Jalani Pengobatan Diabetes, Masykur Rasakan Manfaat JKN-KIS

Program Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) dari BPJS Kesehatan menanggung jaminan biaya kesehatan masyarakat Indonesia. Banyak yang telah merasakan manfaatnya, termasuk Kemas Abdullah Masykur (57) yang didiagnosa penyakit diabetes sejak beberapa tahun lalu.

Masykur membagikan kisahnya yang merasa beruntung telah terdaftar sebagai peserta Program JKN-KIS. “Alhamdulillah, bersyukur sekali saya sudah menjadi peserta JKN-KIS. Sejak terdaftar sebagai peserta, saya sangat sering memanfaatkan kartu ini,” ujar Masykur dalam keterangan tertulis, Selasa (22/12/2020).

Diabetes yang dialami Masykur disebabkan oleh pola hidup tak teratur di masa muda yang menyebabkan tingginya kandungan gula darah. Penyakit yang dideritanya kini juga menyebabkan gangguan pada fungsi tubuh lain, sehingga Masykur harus berobat ke berbagai poliklinik.

“Hingga tiga tahun terakhir penyakit ini menyebabkan gangguan pada mata dan jantung. Mata saya saat ini sudah tidak mampu melihat lagi, pernah juga dilakukan operasi tapi hasilnya masih belum optimal,” papar pria yang terdaftar sebagai peserta pada segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) ini.

Masykur mengandalkan kartu JKN-KIS untuk seluruh pelayanan kesehatan yang dijalani. Berkat program ini, ia sama sekali tak mengeluarkan biaya pengobatan juga obat-obatan. Pelayanan yang ia rasakan juga memuaskan, baik pada tingkat puskesmas maupun rumah sakit.

Masykur berharap, Program JKN-KIS dapat terus berjalan agar manfaat program ini turut dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan.

“Dari pemeriksaan ke poliklinik penyakit dalam, periksa mata, hingga terakhir operasi mata, semuanya tidak pernah bayar, saya cukup menunjukkan kartu JKN-KIS. Sampai sekarang pun saya rutin kontrol, semuanya juga masih ditanggung oleh BPJS Kesehatan,” kata Masykur.

“Manfaat Program JKN-KIS ini benar-benar nyata saya rasakan, semoga program ini tetap ada agar masyarakat tetap dapat terjamin pelayanan kesehatannya. Juga saya harap pelayanan di puskesmas dan rumah sakit semakin baik pelayanannya,” tutupnya.

Negara Hadir Karena Peduli Kesehatan Warganya

Antusiasme masyarakat untuk memperoleh layanan kesehatan dari BPJS Kesehatan membuktikan negara hadir memberikan dan solusi bagi masyarakat.

Beragam manfaat dirasakan bagi peserta BPJS Kesehatan, iuran bulanan yang dibayarkan jauh lebih murah ketimbang asuransi komersial, peserta BPJS Kesehatan merasakan nyaman dengan kualitas layanan.

Selain itu, pemberi kerja merasa cemas ketika memberikan izin berobat bagi karyawannya karena tak perlu antre terlalu lama. Hal ini tentu saja pemberi kerja senang karena produktifitas karyawan tak terganggu bahkan makin meningkat.

“Secara umum coverage yang diberikan oleh BPJS Kesehatan jauh lebih baik dibandingkan dengan yang ditawarkan oleh asuransi komersial pada umumnya. Bahkan coverage yang diberikan sangat mudah didapatkan peserta,” ujar HM Aliansyah tokoh masyarakat di Kota Banjarmasin.

Kata guru ngaji ini, peserta dimudahkan mendapatkan pelayanan baik Faskes tingkat I yang sudah diperbanyak di tiap daerah untuk mengimbangi membludaknya peserta. BPJS Kesehatan juga bekerjasama dengan instansi lain sebagai provider Faskes tingkat I. “Selain itu BPJS Kesehatan sudah secara terbuka memberikan informasi besaran biaya kapitasi kepada publik, sehingga minat semua pihak menjalin kerjasama menjadi Faskes tingkat I,” katanya.

Seperti diketahui, pemerintah membentuk badan usaha yang memberikan jaminan kesehatan kepada masyarakat, yaitu BPJS Kesehatan. BPJS kesehatan sendiri merupakan bentuk transformasi dari layanan yang telah hadir sebelumnya, Askes. BPJS Kesehatan merupakan lembaga yang memiliki tugas untuk memberikan jaminan perlindungan kesehatan mendasar bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebelum bertransformasi menjadi BPJS Kesehatan, lembaga ini bernama PT Asuransi Kesehatan Indonesia atau ASKES (Persero) dan mulai beroperasi sejak 1 Mei 2014 dan sistem kerjanya diatur oleh UU tentang BPJS.

Selain meluncurkan BPJS Kesehatan, pemerintah juga meluncurkan BPJS Ketenagakerjaan yang merupakan transformasi dari PT. Jamsostek (Persero). Namun, BPJS Ketenagakerjaan baru mulai beroperasi pada 1 Juli 2015. Keduanya memiliki manfaat masing-masing dan memiliki benefit yang menguntungkan bagi masyarakat.

Bagi Anda yang telah memiliki BPJS tetapi belum mengetahui apa saja manfaat yang dapat Anda peroleh, berikut kami rangkum 6 manfaat BPJS Kesehatan yang perlu diketahui.

Semua Penyakit Ditanggung BPJS Kesehatan

Manfaat BPJS Kesehatan yang pertama adalah semua pelayanan kesehatan yang sifatnya pengobatan terhadap peserta BPJS, maka dapat ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Intinya, penyakit yang masuk dalam indikasi medis sesuai dengan prosedur JKN.

Sesuai dengan pedoman pelaksanaan JKN yaitu Permenkes nomor 28 tahun 2014 yang menyatakan bahwa semua penyakit akan ditanggung kecuali yang disebutkan secara eksplisit tidak masuk pertanggungan, seperti estetika, infertilitas, alternatif, dan komplementer.

BPJS Kesehatan Menjamin Penyakit yang Dikecualikan

Manfaat BPJS Kesehatan yang berikutnya adalah menjamin penyakit yang dikecualikan. BPJS Kesehatan masih tergolong baru jika dibandingkan dengan jaminan kesehatan atau asuransi lainnya, sehingga mungkin masih banyak peraturan yang masih membuat para pesertanya kebingungan.

Walaupun begitu, BPJS Kesehatan merupakan premi termurah yang siap menanggung penyakit yang dikecualikan banyak asuransi pada umumnya. Seperti penyakit kanker, penyakit hormonal, penyakit kongenital, hemodialisis, dan penyakit jiwa.

Dapat Menanggung Tanpa Melihat Kondisi Sebelumnya

BPJS Kesehatan merupakan asuransi yang menerapkan sistem gotong royong, yaitu yang sehat membantu yang lemah. Manfaat BPJS Kesehatan yang selanjutnya adalah BPJS Kesehatan merupakan jaminan yang akan membantu peserta BPJS yang sakit tanpa melihat kondisi sebelumnya dan tanpa batasan penyakit.

BPJS juga akan membantu peserta yang mengalami sakit seumur hidup atau penyakit besar, seperti thalassemia, gagal ginjal kronis, kanker, penyakit jantung, dan penyakit lainnya yang tidak ada di asuransi lain.

Premi Tergolong Murah

Manfaat BPJS Kesehatan yang selanjutnya adalah memiliki premi yang tergolong murah jika Anda bandingkan dengan asuransi kesehatan lainnya. Namun, murah bukan berarti murahan dengan keuntungan yang dapat diberikan BPJS Kesehatan kepada semua peserta.

Adapun Iuran BPJS Kesehatan yang telah ditetapkan yaitu untuk Kelas 1 Rp 80.000, Kelas 2 Rp. 51.000 dan kelas 3 Rp 25.500. Dengan iuran tersebut, Anda sudah bisa dicover untuk banyak penyakit, rawat inap, pembedahan, obat, dan melahirkan. Bahkan, cuci darah juga dapat ditanggung oleh BPJS Kesehatan.

Berani Berikan Jaminan Seumur Hidup

Manfaat BPJS Kesehatan yang kelima adalah dengan hanya iuran peserta atau premi yang tidak terlalu besar, seluruh peserta BPJS Kesehatan memiliki proteksi hingga seumur hidup.

Semua keuntungan tersebut menjadi hak bagi setiap peserta, tentunya semua dapat diberikan jika peserta dapat memenuhi kewajibannya.

Kewajiban peserta adalah membayar iuran premi secara tepat waktu dan mengikuti aturan berobat yang telah ditetapkan oleh BPJS Kesehatan.

Pembayaran Sangat Mudah

BPJS Kesehatan telah bekerjasama dengan beberapa platform pembayaran yang dapat Anda gunakan selama membayar iuran premi bulanannya. Manfaat BPJS Kesehatan yang berikutnya adalah dengan kemudahan yang diberikan.

Anda tidak harus membayar premi melalui mesin ATM saja, namun kini dengan beberapa fitur lengkap seperti myBills dari Traveloka App. Layanan internet banking dan mobile banking juga dapat digunakan untuk membayar premi BPJS Kesehatan.

Beberapa partner e-commerce dan pembayaran digital yang lainnya juga telah bekerjasama dengan BPJS Kesehatan seperti bukalapak, Tokopedia, Gopay, dan lain-lainnya.

Tidak kalah dengan pembayaran digital, JKN juga saat ini telah menyediakan metode pembayaran autodebet melalui aplikasi mobile JKN yang bisa Anda unduh melalui Playstore.

Manfaat BPJS Kesehatan Bagi Karyawan

Saat ini, BPJS Kesehatan juga bisa didaftarkan secara perseorangan namun untuk karyawan dapat mendapatkan fasilitas BPJS Kesehatan dari perusahaan. Karena pada dasarnya, pemerintah telah menghimbau kepada setiap perusahaan untuk mendaftarkan karyawannya.

Beberapa manfaat BPJS Kesehatan yang dapat memberikan benefit atau keuntungan bagi karyawan adalah seperti terjaminnya kesehatan karyawan dan juga memberikan rasa aman bagi karyawan.

Dengan begitu, karyawan juga akan lebih mampu untuk mempertahankan kinerja yang baik dan juga menjadi lebih loyal pada perusahaan.

Banyak dampak yang dirasakan masyarakat dalam masa pandemi covid 19 saat ini, termasuk banyak peserta JKN-KIS yang menunggak kewajiban pembayarannya.

Hal ini membuat pihak BPJS Kesehatan membantu masyarakat terdampak tersebut dengan memberikan kegiatan seperti turun kelas dan melakukan relaksasi pembayaran untuk mereka yang menunggak diatas 6 bulan.

BPJS Kesehatan juga diberi amanah untuk melakukan verifikasi terhadap klaim-klaim covid 19 di Kalsel, dengan melakukan koordinasi kepada Dinas Kesehatan Provinsi, maupun Kabupaten dan Kota serta Para Direktur Rumah Sakit.

JKN-KIS Sukses Berikan Layanan kepada Masyarakat

Progam Kartu Indonesia Sehat sebagai program pemerintahan Joko Widodo yang paling sukses dalam memberi pelayanan kepada masyarakat. Hal ini berdasarkan hasil survei Alvara Research Center berjudul “Laporan Survei Pilpres 2019 : Ketika Pemilih Semakin Mengkristal” yang dirilis pekan lalu, disebutkan bahwa Kartu Indonesia Sehat (KIS) berada di urutan teratas dari 10 program pemerintah.

Program ini mendapat skor 68%, disusul oleh program Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan pembangunan infrastruktur. Hasil survei tersebut menyatakan program KIS menjadi program pemerintah yang paling dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Indonesia.

Berdasarkan data BPJS Kesehatan, jumlah peserta  yang terdaftar dalam Program JKN-KIS telah mencapai 216.152.549 jiwa atau mencakup 82% dari total penduduk Indonesia per 10 Januari 2019. Program Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) kini diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan.

Lantas apakah Kartu Indonesia Sehat itu? KIS merupakan program yang digagas oleh Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dengan tujuan memberi perlindungan kesehatan kepada rakyat dan mengurangi beban mereka dalam menanggung biaya kesehatan. Jokowi meluncurkan program tersebut bersamaan dengan KIP dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) 14 hari setelah dilantik sebagai Presiden RI ke-7.

KIS berfungsi untuk memberikan jaminan kesehatan kepada masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis. KIS dapat digunakan di setiap fasilitas kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjut. Kehadiran KIS  bertujuan memperluas manfaat dari program kesehatan BPJS Kesehatan yang diluncurkan oleh pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 1 Maret 2014.

Meski sama-sama sebagai program fasilitas kesehatan, tapi faktanya, KIS dan BPJS Kesehatan memiliki perbedaan. Perbedaan utamanya terlihat pada sasaran atau pihak penerima. Jika BPJS merupakan sebuah program yang anggotanya harus mendaftar dan membayar iuran, maka anggota KIS diambil dari masyarakat yang tidak mampu dan pemberian kartunya ditetapkan oleh pemerintah.

Pembayaran iuran KIS juga ditanggung oleh pemerintah. Selain itu, KIS dapat digunakan di mana saja, baik di klinik, Puskesmas, maupun rumah sakit mana pun yang ada di Indonesia. Adapun pemakaian BPJS hanya berlaku di klinik, Puskesmas, atau rumah sakit yang telah didaftarkan.

Manfaat lain yang membedakan KIS dengan BPJS Kesehatan yaitu KIS digunakan tidak hanya untuk pengobatan, tetapi juga dapat digunakan untuk melakukan pencegahan. Sementara itu, BPJS hanya dapat digunakan jika kondisi kesehatan peserta sudah benar-benar sakit atau harus dirawat.

Data menunjukkan bahwa banyak masyarakat yang merasakan manfaat dari hadirnya program KIS. Pada 2018, pemanfaatan pelayanan kesehatan di seluruh tingkat layanan mencapai 233,8 juta pemanfaatan atau rata-rata 640.765 per hari.

Efek lain dari kehadiran Program JKN-KIS adalah adanya dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Menurut survei yang dilakukan oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) pada 2016, kontribusi JKN-KIS terhadap perekonomian Indonesia mencapai Rp152,2 triliun pada 2016 dan bisa mencapai Rp289 triliun pada 2021. Program ini juga diproyeksi membantu meningkatkan angka harapan hidup masyarakat Indonesia sampai 2,9 tahun. Penelitian FEB UI pun menyebutkan bahwa program JKN-KIS telah menyelamatkan 1,16 juta orang dari kemiskinan pada 2016. Tak hanya itu, JKN-KIS juga telah melindungi 14,5 juta orang miskin dari kondisi kemiskinan yang lebih parah.

*) wartawan infobanua.co.id

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed