oleh

Nagekeo Mandiri menyelenggarakan Diskusi Online yang bertema Bandara Surabaya II Mbay: Tantangan, Peluang dan Harapan Menuju Nagekeo Tumbuh-Maju

Jakarta, Infobanua.co.id – Melalui laman Facebook per tanggal 6 September 2021, Bappelitbangda Nagekeo mengumukan berita gembira terkait perkembangan rencana pembangunan Bandara Surabaya II Mbay. Tim Kajian dari PT LAPI ITB Bandung mempresentasikan laporan pendahuluan Bandara Surabaya II Mbay (2500 meter) yang dalam perencanaan sudah bisa dibangun pada tahun 2022. Sontak, berita ini kembali membangkitkan memori kolektif masyarakat Nagekeo yang tentunya merindukan adanya salah satu infrastruktur aksesibilitas yang diharapkan bisa memudahkan mobilitas serta mendongkrak pertumbuhan ekonomi masyarakat Nagekeo. Tentu perjuangan panjang ini bukan tanpa arang menghadapi kendala serta tantangan. Lantas bagaimana strategi pemerintah Kabupaten Nagekeo dalam menapaki jalan untuk merealisasiknanya? Bagaimana harapan dan peluang Bandara Surabaya II Mbay bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat? Bagaimana tanggapan masyarakat atas kehadiran bandara ini di masa mendatang. Nagekeo sedang berada di titik perubahannya menuju Nagekeo yang tumbuh-maju. Lantas bagaimana peran semua pihak dalam menyambut peluang ini? Diskusi pada Sabtu, 25 September 2021 ini diselenggarakan Oleh Nagkeo Mandiri.
Bapak Isyak Nuka, ST, M.M (Kepala Dinas Perhubungan Provinsi NTT, dalam materinya mengatakan semestinya tidak menjadi masalah nomenklatur PIC ke Bappelitbangda Kabupaten Nagekeo karena bisa melalui proses kajian pra-FS, FS, Masterplan dan DED harus ada kolaborasi dengan output dan manajemen kolaborasi yang efektif, Tahapan pembangunan bandara dimulai dari studi perencanaan yaitu Pra FS, FS, setelah dinyatakan layak maka dilanjutkan dengan Penetapan Lokasi oleh Menhub. Setelah itu dilanjutkan Studi Master Plan dan DED, dan AMDAL. Tahapan perencanaan ini bisa dilakukan oleh Pemda. Setelah itu tahapan pemb fisik bandara. Biasanya oleh pusat menggunakan APBN. Dapat juga menggunakan skema KPBU kerjasama pemerintah dengan badan usaha atau skema PINA pembiayaan investasi non anggaran pemerintah. Pengelolaan bandara bisa oleh pemerintah dalam hal ini Dirjen Perhubungan Udara, atau oleh BUMN seperti Angkasa Pura, atau juga oleh swasta seperti PT. CAF yang nanti mengelola bandara Komodo Labuan Bajo. Bapak Isyak yakin bandara di Mbay dapat dibangun dalam waktu dekat ini (2023) karena studi perencanaan sudah on the track. Perlu dikawal terus proses2, tahapan perencanaan yang saat ini sedang dilakukan oleh Bappelitbangda, dan Dishub Nagekeo. Isyak mengatakan Pemprov NTT melalui dishub provinsi akan membantu untuk koordinasi ke Kemenhub. Tahapan perencanaan dapat dilakukan simultan dengan pembangunan fisik jika anggaran memungkinkan dan karena alasan prioritas dengan adanya suatu Keppres.
Bapak Marianus Jawa, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi NTT, mengatakan Kehadiran Bandar udara sesungguhnya sebagai simpul jaringan transportasi, pintu gerbang kegiatan perekonomian, penunjang kegiatan industri dan perdagangan. Bapak Marsi Menyatakan soal persyartan perizinan yang pertama bukti kepemilikan lahan, kedua Rekomendasi yg diberikan oleh instansi terkait utilitas dan aksrsbikitas penyelenggaraan bandar udara, ketiga Bukti penetapan lokasi, keempat Rancangan teknik terinci fasilitas pokok bandara dan
kelima Kelestarian lingkungan. Marsi yang juga Ketua Ikatan Keluarga Besar Nagekeo Kupang ini, mengisyaratkan Sesungguhnya kita butuh dukungan dari semua pihak antara lain, pemerintah, BUMN/BUMD dan Badan hukum indonesia.

Bapak Benediktus Ceme (Tokoh Masyarakat Nagekeo), dalam pernyataannya berita gembira terkait dengan progres pengembangan bandara Surabaya II Mbay, Harapan bandara sudah ada sejak dahulu bukan hanya Nagekeo tetapi Kabupaten Ngada dan Pemerintah saat ini.

Bapak Yosef Djuwa Dobe Ngole (Tokoh Masyarakat Nagekeo Diaspora Jakarta), mengatakan Masalah tanah code and code agak sedikit sudah terselesaikan. Tetapi kajiannya pelebarannya juga akan memakai lahan-lahan produktif, Ketentuan hukum dan masalah sosialnya memang harus dipikirkan dan didekati dengan pendekataan sosial dan budaya. Bandara Surabaya II sesuai perhitungan bisa didarati Pesawat jenis Boeing, Masyarakat di Nagekeo antusias sekali terkait bandara, tetapi progresnya terkesan tersendat-sendat. Menurut Yosef Djuwa, Bandara ini bukan hanya masalah kepentingan Nagekeo tetapi kepentingan Bangsa NKRI. Bandara itu awalnya dibangun oleh semua orang Nagekeo dengan modal parang dan kapak sekalipun untuk kapasitas pesawat jepang, Bayangkan perjuangan masyarakat Nagekeo saat itu berkorban untuk bangun bandara surabaya II (Tebang pohon, banyak nyamuk, ada buaya di sungai juga), Bandara kita tahan bom (Teknologi jepang) pada saat itu. Percayakan kepada yang ahli pengembangan bandara, Bandara Surabaya II terkait dengan ketahanan strategis Negara (Keamanan nasional), Komoditas laut nagekeo (Pesawat cargo), Lahan parkir untuk tempat parkir pesawat. (Sumber bisnis juga).Dengar-dengar Level bandara Surabaya II lebih dari bandara perintis lainnya.

Bapak Efraim Muga, Kadis Perhubungan Nagekeo
Mengatakkan Bandara Mbay sebagai 49, … Hektar, sebagai alternatif ke depannya sebagai suitable airport yang didarati maskapai apa saja
Tim Peneliti: bandara ini dibangun sebagai driven investement (penunjang investasi), Jika penlok sudah disetujui maka menjadi pintu ke arah proses selanjutnya. Mendapat informasi dari rekan, RKA yang akan ditetapkan bulan November ini. Bagaimana mengamankan ini harus ada penlok? keluarnya kapan?
Bapak Bupati Nagekeo berkomitmen untuk percepatan pengembangan Bandara di Mbay, Terkait dengan agraria (Tidak beruursuan dengan transat lagi) 49 Ha lebih, Panjang Runway 1200 meter. Bandara sebagai program utama dari Dishub Nagekeo.

Bapak Faustinus Wundu, Pengamat, Pebisnis dan Tokoh Masyarat Nagekeo, mengatakan Bandara Surabaya II adalah kebutuhan nasional, izin Prinsip di tahun 2008 (Kebutuhan nasional), Merintis destinasi-destinasi Bali Baru (Flores menjadi destinasi utama) sehingga perlu infrastruktur memadai (Frans Teguh Kemenparekraf). Nagekeo sebagai centre of Flores (Pintu gerbang ke destinasi unggulan di Flores), Dukungan dari Pertahanan Keamanan bandara sebagai ketahanan nasional. Anggaran terlambat untuk kemudian dialokasikan pengembangan Bandara Surabaya II, Ada pergeseran dari sisi nomenklatur, Untuk mengatasi alotnya suplay and demand, maka bisa dipakai Izin prinsip. Argumentasinya untuk justifikasi (Pariwisata, pertahanan dan ekonomi). Bandara masalah extraordinary. Dari sisi suplay demand harus siap karena bersngkutan dengan keberlanjutan. Faustin Bersama bapak Tomas Koba (Mantan Kadis Perhubungan Nagekeo) bertemu Direktur Keuangan, pertanyaan apabila bandara jadi, siapa yang mengelola? Apakah angkasa pura atau swasta? Daerah punya kewenanggan untuk menentukan pengelolaannya.

Dalam sesi diskusi, Leo Lupa Wea, menyampakan Terkait dengan nomenklatur/Nama Bandara? Untuk Masalah nama Bandara Faustinus Wundu menyampaikan pendapat terkait nama akan kita pikirkan kemudian yang paling penting adalah terkait dengan timeline pekerjaan serta realisasinya. Jenderal Goris Mere menjadi Ketua Tim Penggerak Pengembangan Kabupaten Nagekeo sehingga perlu berkoordinasi intens lintas kelompok dan lembaga lain juga.

Diskusi yang dipandu Oleh Haris Ligo Meo cukup alot.
Haris mengatakn Rencana pengembangan Bandara Surabaya II Mbay memerlukan kolaborasi semua stakeholder Nagekeo. Forum Nagekeo Mandiri On-line (NAMANGI. 6.0) merupakan salah satu wadah berharga bagi semua pihak untuk bisa mengetahui progres yang sementara berjalan serta menggagas ide untuk menemukan langkah2 strategis percepatan pengembangan yang sejatinya bisa dilakukan bersama-sama dengan filosofi To’o Jogho Waga Sama.

Diakhir Diskusi Agustinus Bebi Daga selaku admin Nagekeo Mandiri menyampaikan closing statementnya, ia menyampaikan ucapkan limpah terima kasih kepada para narasumber, Moderator dan peserta dimana sudah mau meluangkan waktu, pikirian untuk Nagekeo tercinta, kalo bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi? Ayo Nagekeo Hebat, Nagekeo Bisa.(ABD)

News Feed