oleh

Toto melakukan budidaya porang di Desa Raja Kecamatan Boawae

Raja, Indobanua.co.id-Tanaman porang kini menjadi primadona para petani di Indonesia. Tumbuhan liar ini ternyata memiliki nilai rupiah yang tinggi. Porang adalah tanaman yang bermanfaat sebagai pangan dan bahan baku industri kosmetik dan obat-obat.

Toto sapaan Thomas Toda, memulai membudidayakan tanaman porang di Raja. Dia menyebut porang adalah komoditi nasional di masa yang akan datang. Nagekeo punya potensi cukup besar sebagai penghasil tanaman porang.

Ia kini mendorong masyarakat di Nagekeo membudidayakan porang dikelola secara intensif.
Sebab selama ini hanya didapatkan di hutan atau di kebun yang tumbuh liar.
Beberapa kabupaten telah dikunjungi, seperti Manggarai Barat, Maumere, dan Nagekeo ia melihat porang tumbuh liar. Coba kalai di budidayakan “Dengan tumbuh liar sudah bisa menghasilkan  bagaimana kalau dibudidayakan. Yang selama ini masyarakat dapatkan di hutan dan di kebun, sekarang sudah ada kelola secara intensif,” kata Toto ketika dihubung Media Infobanua.co.id, Minggu, 25 September 2021 via telpon.

Jika mau panen umur 8 -9 bulan maka kita tanam yang umbi dgn ukuran 300-400 gram dapat panen berat rata 3 kg, jika mau umbi lebih besar maka perlu di biarkan 2 tahun dengan berat rata 5kg, tinggal di kalikan kalau harga perkgnya 6000 x 5kg kali 40 ribu umbi berapa banyak uang yg petani terima nanti, Toto juga mengatakan untuk pemasaran sia sudah melakukan MOU dgn PT.TRIJAYA INTERNASIONAL KONJAK, ucar Bang Toto.

Pria kelahiran Raja ini pun berbagi tata cara dalam membudidayakan porang.

Pertama, hal yang harus disiapkan adalah lahan. Tanaman porang bisa tumbuh di 50-1000 di Mdpl.
Selain porang bisa tumbuh di lahan yang menggunakan naungan. Terpenting lahan tersebut tanahnya gembur dan tidak boleh tergenang air.

Kedua, harus mempersiapkan bibit porang. Ada tiga jenis yaitu, bibit porang katak, umbi dan spora. Tiga  jenis bibit ini hasilnya berbeda-beda jika dibudidayakan.
Untuk bibit katak terbagi tiga jenis, bibit katak kecil, sedang dan super. Bibit katak kecil hasilnya setelah 7 bulan mencapai 5 ons.
Bibit sedang mencapai 8 ons. Sementara bibit super hasilnya bisa mencapai 1-2 kilogram. Jenis bibit ini sudah direkomendasikan dan telah tersedia di Manggarai Barat.
Untuk bibit spora dalam kurun waktu 6-7 bulan hasilnya tidak terlalu besar, hanya 3-4 ons. Namun, ketika sudah dua musim, bisa menghasilkan 2-3 kilogram. Setelah mempersiapkan bibit, hal ketiga dilakukan persiapan penanam dengan pengolahan tanah yang bagus. “Sudah banyak masyarakat membudidayakan porang secara bagus. Menggunakan pengolahan tanah, akan tetapi ada banyak juga yang masih sistem tradisional dengan tumbuh liar”.

“Toto mendorong dengan Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Holtikultura Nagekeo bagaimana melakukan edukasi ke masyarakat. Memanfaatkan lahan tidur seperti lahan yang ada pohonnya untuk ditanami porang di bawahnya. Dengan pengolahan tanah maka hasilnya akan bagus,” tutur Toto.

Di Raja ada dua Lokasi Kebun Contoh yang pertama selesai di tanam Minggu ini dan satu lokasi akan di tanam Minggu ke tiga Oktober ini selain yg sudah di tanam tahun lalu seluas 6 ha yg menyebar di beberapa titik dan target tahun ini sekitar 15 ha,yg menyebar di Raja kecamatan Boawae, Ndora Nangaroro, Kota Keo dan sekitarnya

Tahap keempat, Menurut ASN pada Kantor Kementerian Pertanian ini adalah pemeliharaan.
Populasi per hektar yang dapat ditanami porang mulai 15 ribu per hektar, 20 ribu per hektar, 30 per hektar, 40 per hektar dan 50 ribu per hektar. “Tergantung kesedian bibit dan jarak tanamnya,” sebutnya.
Dalam tahap pemeliharaan tentu porang harus diberi pupuk.  Pupuk dasar dengan menggunakan pupuk kompos. Dalam masa 7-8 bulan harus diberi sebanyak tiga kali. Setelah itu menyiapkan pupuk hayati dan cair. Dilakukan penyemprotan sebulan minimal tiga kali.

“Itu fase pemeliharaan termasuk bagaimana mengurus budidaya porang yang tidak ada tanaman pengganggunya. Tanaman pengganggu bisa merebut nutrisi dari dalam tanah,” ungkapnya.
Setelah tahap pemeliharaan, masuklah ke tahap kelima yaitu panen. Toto menjelaskan, di bulan kelima masa tanam sudah bisa mendapatkan hasil.
Untuk bibit porang jenis katak. Satu pohon bisa menghasilkan 5 biji. Jik menggunakan ukuran 25 ribu biji per hektar, jadi bisa menghasilkan 75 ribu biji. Kemudian berangsur-angsur di panen hingga bulan ke-8.
Cara panen porang jenis katak tidak boleh dipetik, tapi harus dipungut. Panen katak, saat  jatuh dari buahnya. Tidak boleh dipetik karena tidak menghasilkan bibit sempurna.
Sementara bibit porang umbi bisa dipanen ditandai dengan batang porang yang mengering. “Dari budidaya porang secara intensif kalau diikuti, pasti mendapatkan hasil yang bagus,” ucap Toto.

Toto sudah mulai di Kabupaten Sikka sekitar 15 ha yg menyebar di beberapa kecamatan dan Bang ToTo sendiri sudah budidaya 2 ha dan tahun ini 3 ha lagi, tambah bang Toto
(ABD)

News Feed