oleh

Judul  : PTIC Balangan Perkenalkan Jurnalistik Untuk Pahami Produk Pers

Paringin, infobanua.co.id – Derasnya informasi di media sosial membuat semakin banyak siswa tidak bisa membedakan berita produk jurnalistik dan informasi yang dibuat warganet (non-jurnalis). Di sisi lain, bidang jurnalistik biasanya diperkenalkan secara singkat di sekolah pada mata pelajaran Bahasa Indonesia atau kegiatan ekstrakurikuler. Berangkat dari permasalahan ini, perkumpulan teacherpreneur indonesia cerdas ( PTIC ) Kabupaten Balangan bidang Literasi , Jurnal dan Publikasi akan menjadi program utama yang akan di laksanakan.

“ Mengenalkan dunia jurnalistik adalah bagian dari pengembangan literasi. Siswa tidak hanya mengetahui mana informasi yang benar dan salah, tetapi juga membiasakan berbahasa lisan dan tulisan yang baik dan sistematis,” kata kepala Bidang bidang Literasi , Jurnal dan Publikasi, Edy Junadi S.Sos. di temui sehabi pelantikan Pengurus PTIC Balangan di aula Benteng Tundakan Kamis ( 23/09/2021)

Menurut  Edy Junaidi, nantinya PTIC Balangan  mengenalkan bidang jurnalistik dengan menggandeng perguruan tinggi khususnya program studi ilmu komunikasi, jurnalis media massa, serta lembaga pers. . Hal ini dilakukan agar siswa mampu membedakan berita dari pers atau media massa berbadan hukum yang diakui pemerintah dan berita yang dibuat bukan perusahaan pers.

Selanjutnya dari hasil survei yang dilakukan kepada sejumlah siswa SMA/Madrasah, masih ada pelajar yang belum mampu mengenali berita atau informasi palsu. Beberapa siswa juga belum mampu mengidentifikasi apakah informasi yang diterima merupakan produk pers atau hanya informasi yang dibuat pengguna internet. “Tidak hanya siswa di sekolah menengah, mahasiswa ditanya media massa apa yang diakses, seringkali tertukar dengan media sosial dan agregator konten di internet

Profesi jurnalis perlu diingatkan kembali kepada para siswa di tengah semakin banyak influencer di media sosial seperti YouTube, Instagram, Twitter yang menjadi panutan siswa. Pengguna media sosial usia muda kata dia, mudah terpengaruh dan percaya informasi yang dibagikan. Sementara influencer tidak memiliki keahlian di bidang tersebut. “Tidak ada pengawas dalam aliran informasi di media sosial. Berbeda dengan berita di media massa yang sudah melalui tahap penyuntingan”, katanya.

 

Penulis  : Ratno T

News Feed