oleh

Bahasa Kritik yang Elegan

oleh : Pribakti B *)

Kritik menjadi fenomena sosial yang menarik dalam kehidupan demokrasi. Namun, seringkali kritik menjadi masalah dalam relasi komunikasi sosial, terutama dalam hubungan dengan politik kekuasaan negara. Seiring berjalannya waktu, bahasa mengalami perkembangan. Kita tahu itu. Terlebih, makna suatu kata pun dapat meluas dan menyempit. Perubahan makna berupa penghalusan atau eufemisme, saya rasa, tidak akan ada habisnya untuk diperdebatkan – apalagi jika dikaitkan dengan politik, kekuasaan, dan media massa.

Sebenarnya kritik mengkritik  adalah masalah bagaimana melantunkan bahasa. Seperti juga dalam sastra yang baik , kritik akan bergantung pada “ bahasa pilihan”. Bahasa ini adalah bahasa yang sangat pribadi, yang hanya sang penulis atau sang pengritik yang memilikinya. Begitu ia merasa pas dengan pilihannya , kritik itu akan siap dilancarkan. Kadar “ menyerang” dari kritik akan tergantung bobot bahasa pilihan tersebut.

Di lain pihak , bahasa adalah juga bahasa masyarakat. Ia berkembang dan dikembangkan, antara lain untuk menjaga sistem nilai. Contoh pada masyarakat pertanian tradisional yang mementingkan kerukunan dan harmoni akan mengembangkan penggunaan bahasa yang memperkukuh nilai-nilai tersebut. Bahasa yang dianggap cenderung merusak kerukunan dan harmoni akan dihindari dan dicegah. Namun ketika masyarakat pertanian tradisional itu berkembang menjadi masyarakat pertanian modern , sistem nilai tersebutpun berubah.

Dalam masyarakat seperti itu, kiritik diharapkan dilakukan dalam bahasa yang tidak akan merusak kerukunan dan harmoni. Tetapi kalau diingat bahwa esensi kritik adalah “menyerang”, bagaimana hal tersebut dapat dilaksanakan dalam kondisi tuntutan sistem dinilai demikian? Bahasa pilihan yang bagaimana akan dikembangkan oleh sang pengkritik?

Sesungguhnya kritik tidak hanya ulasan yang menunjuk pada kelemahan atau kesalahan  pendapat. Kritik mestinya juga menunjuk pada kekuatan atau kebenaran pendapat tersebut. Karena kritik terutama ingin memusatkan pada kelemahan atau kesalahan, dengan demikian mendesak pengakuan akan kekuatan dan kebenaran pendapat tersebut ke pinggir, maka kritik jadi agresif. Mengkritik jadi tampil sebagai “menyerang”. Yang ditunjuk kesalahan dan kelemahannya jadi merasa “diserang”. Bagaimanapun sang pengkritik akan berusaha menunjukkan kekuatan dan kebenaran pendapatnya. Tapi yang kena kritik sudah terlebih dahulu mengambil posisi “bertahan” atau bahkan bersiap untuk ganti  “menyerang” . Dalam bahasa silat ia akan “pasang kuda-kuda”.

Problemnya budaya bangsa kita sering dikatakan sebagai “budaya malu”. Budaya bangsa kita juga sangat dikuasai oleh “budaya segan” atau mungkin juga “budaya enggan”. Akibatnya nilai kerukunan dan harmoni yang begitu sentral dalam sistem budaya kita telah menciptakan berbagai sikap yang khas dalam masyarakat Indonesia . Ia mendorong tumbuhnya keengganan untuk berkonfrontasi secara langsung atau memulai suatu konflik. Ia menganjurkan lebih baik menghindari pertengkaran daripada menyambutnya. Ia akan menekankan pada sikap peka terhadap kemungkinan munculnya rasa tersinggung pada orang lain.

Maka bisa dibayangkan bagaimana bangsa kita dalam perjalanan hidupnya selalu ditempatkan dalam kedudukan waspada kemungkinan pecahnya kerukunan atas keselarasan. Ia akan menjadi beban budaya kita yang paling pokok dalam pengaturan hidup bermasyarakat. Karena itu kepekaan yang terus menerus dilatih adalah kepekaan menjaga jarak yang lestari. Orang Jawa sudah dianggap jowo apabila telah menguasai jurus kepekaan dalam konteks diatas. Ukuran “halus”, “beradab” dan tahu adat” akan sangat ditentukan oleh penguasaan jurus kepekaan ini. Dengan demikian , bahasa pergaulan  dengan sendirinya juga bahasa pilih kritik yang mestinya “menyerang “ itu , kini penuh dengan sindiran. Kritik mengkritik menjadi ajang lantunan bahasa sindir , bahasa semu dan bahasa yang berbunga-bunga

Apakah dengan demikian tujuan kritik akan tercapai? Ini tergantung seberapa jauh sistem nilai tradisi kita masih kuat berakar dalam masyarakat. Bila akar sistem nilai tradisi tersebut kuat berakar , mungkin kritik dengan bahasa sindir justru lebih efektif daripada kirik lugas dan langsung. Yang dikritik masih mendudukkan dirinya dalam posisi hierarki masyarakat  sehingga kadar kepekaannya terhadap kritik masih akan berada dalam konteks posisi tersebut. Apakah kritik yang berciri penghalusan atau eufemisme ini  khas bangsa Indonesia? Tentu tidak , ini karena nilai “halus” dan nilai “segan” ada dimana-mana baik di Eropa dan di Amerika. Semuanya itu sama-sama dibutuhkan sebagai pemikat serta bumbu-bumbu pergaulan antar manusia. Mereka juga membutuhkan kerukunan dan keselarasan, karena tidak ingin jagat mereka berantakan dan bercerai-berai.

Lalu apa yang membedakan kita dengan mereka? Barangkali konteks orientasi budayanya. Mereka masyarakat industri maju yang modern ini, hidup dalam masyarakat egaliter dan sistem yang sangat terbuka. Masyarakat sama derajat dan sama haknya. Mereka menganggap itu semua sebagai suatu syarat mutlak. Sedangkan kita , masyarakat belum industri dan mau modern hidup dalam masyarakat yang masih menganggap hierarki sosial sebagai konteks budaya . Dahulu kita pernah menganggap itu sebagai syarat mutlak. Sekarang kita mulai mempertanyakan kemutlakan itu.

Barangkali kita sekarang sedang bergerak mencari dan merumuskan bahasa baru yang tidak terlalu bergantung pada konteks nilai keselarasan hierarki. Sepertinya kita butuh bahasa kritik yang cukup sopan dan elegan tetapi tanpa harus merunduk-runduk dan sering mendongak keatas. Bahasa kritik yang sopan ? Saya jadi teringat guru bahasa Jawa saya di sekolah menengah. Seorang Jawa yang masih menjunjung tinggi sistem nilai priayi tetapi sekaligus juga berusaha dengan sekuat tenaga menjadi orang Indonesia baru yang baik. Nasihatnya: Begitu ya begitu, tapi mbok jangan begitu.

*) Dokter RSUD Ulin Banjarmasin

 

 

 

 

News Feed