oleh

Refleksi Hari Dokter Nasional 24 Oktober: Tantangan Otoritas Dokter

Oleh : Pribakti B *)

 

Menjadi dokter adalah sebuah anugerah yakni anugerah untuk melayani kemanusiaan. Maka seharusnya kita (para dokter) yang diberi kesempatan  menjalankan tugas dengan sepenuh hati ini adalah panggilan yang mulia. Kita harus bersyukur bahwa kita dipilih untuk menjalani tugas mulia sebagai dokter dan syukur itu harus diwujudkan dalam bentuk kerja keras dan tidak mengeluh betapapun kerasnya tekanan yang kita hadapi untuk membantu mereka yang membutuhkan.

Menjadi dokter tidak hanya bekerja di kamar operasi saja, menjadi peneliti biomedis saja, bekerja di IGD saja dan menjadi dosen di lembaga pendidikan. Namun lebih daripada itu ada peran besar menanti sehingga dituntut kita semua untuk selalu meningkatkan ilmu dan ketrampilan agar bisa berperan secara maksimal. Salah seorang pasien pernah mengatakan bahwa persoalan sakit itu adalah takdir, namun bagaimana cara seseorang menghadapi penyakitnya  adalah persoalan martabatnya sebagai manusia. Tidakkah sebagai dokter , kita perlu bersyukur bahwa kita dipercaya untuk menjadi “ teman seperjalanan” mereka yang sedang menegakkan martabatnya?

Sebagai dokter yang masih aktif menjadi staf pengajar di lembaga pendidikan, saya merasakan bahwa ilmu kedokteran sangat dinamis dan berkembang cepat. Berbagai temuan teknologi membantu kita mencapai berbagai kemajuan yang mungkin tidak terbayangkan. Saya jadi teringat akan penyakit HIV/AIDS. Beberapa puluh tahun yang lalu ketika kasus HIV/AIDS pertama ditemukan dan kemudian berkembang menjadi epidemi, para ahli waktu itu juga tidak membayangkan bahwa ternyata infeksi yang dulunya sangat fatal ini sekarang sudah demikian dapat dikelola dan harapan hidup mereka yang terinfeksi hampir sama dengan mereka yang tidak terinfeksi. Namun kita harus mengingat juga bahwa kemajuan teknologi juga membawa perubahan perilaku baik kepada individu maupun masyarakat luas. Termasuk perilaku dalam mencari pelayanan kesehatan, memahami risiko-risiko yang dihadapi dari pilihan-pilihan yang tersedia dan pola interaksi dokter-pasien.

Kemajuan teknologi informasi telah membuka peluang bagi pasien dengan latar belakang non medis mencari sendiri informasi ke berbagai sumber. Mereka siap dengan berbagai pertanyaan – yang sepanjang pengalaman saya – kadang membuat dokter kewalahan menjawabnya. Waktu untuk konsultasi semakin panjang karena banyak pasien mencoba membandingkan pengetahuan yang mereka peroleh dari internet dengan informasi yang kita sampaikan sebagai dokter. Otoritas dokter mendapat tantangan .

Lebih lanjut , pada saat terapi akan dimulai , dokter sekarang dituntut untuk menjelaskan alternatif-alternatif yang tersedia, karena pasien kian menyadari bahwa mereka memiliki hak atas tubuh mereka sendiri. Dokter adalah mitra, bukan lagi “dewa” yang memutuskan apa yang terbaik bagi pasiennya. Saya adalah bagian dari generasi analog yang menyaksikan tumbuhnya dunia digital. Perkembangan teknologi digital ini tidak bisa saya tolak, karena perkembangan ilmu kedokteran sendiripun berkat kemajuan teknologi digital. Maka saya tak punya pilihan kecuali untuk masuk kedalam arus besar tersebut. Tidak hanya sekadar supaya tetap up to date, tetapi juga supaya bisa memberikan pilihan layanan terbaik dan menghindarkan pasien dari risiko-risiko yang tak perlu.

Penting untuk dicatat bahwa teknologi informasi yang ada saat ini sanggup “melipat” ruang. Maksud saya, perkembangan apapun yang tengah digagas di belahan dunia lain bisa kita ikuti secara real time darimanapun selama kita terhubung dengan internet. Dan semakin hari akses ke internet juga semakin mudah, karena pemerintah semakin sadar dan peduli soal ini. Jadi sebenarnya tidak ada alasan bagi dokter sekarang untuk tidak up to date. Yang diperlukan tinggal terus-menerus mengasah perilaku belajar dan mencari informasi dari kita.

Saya mengakui bahwa teknologi sangat memudahkan dan memungkinkan saya untuk tetap produktif di usia senja ini. Fisik kita akan mengalami kemunduran, namun semangat belajar tidak boleh surut. Saya menulis buku yang sebagian dari hasil kontemplasi selama beberapa tahun . Pada waktunya, buku-buku tersebut mungkin akan dianggap jadul alias ketinggalan zaman. Tetapi semoga pesan yang ingin saya sampaikan akan bertahan lebih lama bahwa untuk menjadi dokter yang baik kita harus tetap rendah hati dihadapan ilmu pengetahuan yang cakrawalanya terus menjauh.

Ralph Waldo Emerson , seorang esais Amerika Serikat, dosen dan penyair abad ke  19 pernah mengatakan bahwa menjadi bahagia bukanlah tujuan utama dalam hidup. Yang sebenarnya kata Emerson, kita hidup untuk menjadi bermanfaat, tumbuh menjadi pribadi yang layak dihargai, menebarkan kasih-sayang  dan menjadi contoh dari perbedaan antara hidup yang sekadar hidup dan hidup yang benar-benar dijalani dengan baik.

Dari perpektif sebagai dokter, saya melihat ada kebenaran dalam kata Emerson tersebut. Kita menjalani tugas sebagai dokter tidak untuk membela kehidupan kita atau keluarga kita sendiri. Mungkin pada awalnya kita punya beragam alasan (ingin menolong orang sakit, ingin kaya, ingin populer) untuk menjadi dokter. Alasan- alasan itu bisa datang dari diri sendiri maupun dari orang-orang disekitar kita, namun dalam perjalanan waktu (semoga) kita akan menemukan penjelasan mengapa kita memilih profesi ini. Selamat Hari Dokter Nasional, 24 Oktober !

 

*) Dokter RSUD Ulin Kota Banjarmasin

 

 

 

 

News Feed