infobanua.co.id
Beranda BANJARMASIN Perlu Mendengar untuk Indonesia

Perlu Mendengar untuk Indonesia

oleh Pribakti B *)

Dalam komunikasi, berbicara memang lebih mudah daripada mendengar. Mengapa?
Pertama, berbicara lebih sering sesuai kehendak pribadi atau para pembisik. Sementara mendengar kadang tidak cocok dengan kehendak pribadi. Sebab mendengar pada dasarnya adalah merespon curhatan pihak lain. Kedua, berbicara seringkali menonjolkan ego, citra, identitas diri, dan kepentingan. Sedangkan mendengar bisa melunturkan ego. Karena harus menyerap kemauan atau suara orang lain.

Mendengar itu niscaya demi mengerti dan menjadi beradab. Tanpa mengerti tiada kesalingmengertian, maka tak ada pula saling menghargai. Kedua hal yang tiada itu merupakan unsur-unsur hakiki yang melandasi keberadaban dan pemberlakuan terhadap manusia  sebagai subyek. Ketidakadaan “mengerti” ini  dipastikan akan menyuburkan kecurigaan dan ketakutan. Menjelang  tahun politik 2024 ini bangsa kita terus mengagung-agungkan ekspresi verbal, pekik teriak, suara lantang, hardikan menggelegar dan yel-yel . Media sosial dan teknologi komunikasi pun menggelar jalan tol untuk perwujudan pernyataan-pernyataan kewicaraan itu.

Jadi tidak heran bila bangsa ini menjelma menjadi massa yang gemar berekspresi kewicaraan. Padahal semakin banyak orang berwicara, kian sedikit ia mendengarkan. Bangsa yang suka sekali dengan pernyataan verbal  akan menjadi makin kurang mendengarkan. Tiga kenyataan berikut memperlihatkan betapa bangsa kita kurang atau tidak gemar mendengarkan. Pertama, hiruk pikuk seperti abadi dalam media sosial, dengan tebaran yang padat dan luas hoaks, penghinaan, caci maki dan fitnah. Kedua, kenekatan berwicara bohong yang lantang, yang justru dianggap bahkan dipuji sebagai bukti keberanian dan keteguhan dalam berprinsip. Ketiga, ketidakpedulian terhadap “suara rakyat yang sesungguhnya” (yang paling tampak dalam perilaku “tetap berkorupsi” kendatipun rakyat menyerukan agar elite politik tidak melakukan korupsi).

Dalam karya tulis yang terpublikasi, Sigmund Freud , seorang psikoanalisis ternama dunia menyatakan bahwa betapa pengungkapan secara verbal atas perasaan yang terkandung dalam pengalaman menyakitkan, yang mengakari gangguan psikis histeris akan mengakhiri gejala-gejala gangguan psikis itu. Jadi bisa dibayangkan betapa hebatnya ekspresi verbal itu. Ia dapat menyembuhkan gangguan jiwa. Bisa jadi yang banyak bicara lebih mengarah menderita sakit jiwa yang terselubung.

Yang menarik tokoh pendiri psikoanalisis itupun kembali menegaskan bahwa verbalisasi perasaan sedemikian penting di tengah upaya menumbuhkembangkan kesehatan jiwani. Ini karena pengalaman perasaan yang menyakitkan, tetapi tidak terkatakan, akan dikucilkan dari kesadaran. Makanya akan direpresikan sehingga tetap ada, tak terolah, lantas menjadi “ingatan pengalaman traumatis yang terus saja bekerja”. Kata pak Sigmund Freud hal ini akan melestarikan gejala-gejala gangguan jiwa.

Akan tetapi, verbalisasi perasaan yang dicita-citakan dalam psikoanalisis sama sekali tidak sama dengan lontaran-lontaran hoaks dan fitnah verbal di media sosial. Sesungguhnya manusia dibimbing sesamanya yang mendengarkan walau ia harus dengan saksama untuk menilik dan mendalami pengalamannya sendiri, yang begitu menyakitkan. Lalu untuk mengungkap efek traumatis (perasaan yang menyakitkan) tersebut melalui atau dalam kata-kata. Makanya dalam penciptaan kata-kata kebohongan dan fitnah verbal, orang justru tidak mau menyentuh perasaan menyakitkan yang bersarang di dalam dirinya. Yang ia lakukan justru membuangnya kuat-kuat keluar tanpa ia harus mengalami sakitnya perasaan itu.

Masalahnya, kegagalan mendengarkan dan pengagung-agungan ekspresi verbal akan berefek tragis berupa fitnah dan hoaks. Ini terjadi karena orang membenarkan pengalamannya sendiri, yang menyakitkan atau tak menyenangkan. Bila menilik sejarah wicara, wicara bukan lahir dari “mengerti” dan keberadaban yang bersumber pada mendengarkan yang saksama, melainkan terlontar dari jiwa yang menghindari, menolak, melewatkan dan melarikan diri dari “rasa menderita yang sah”, yang  ada dan berlangsung di dalam diri.

Maka di tengah perkembangan peradaban manusia masa kini, berdemokrasi menjadi salah satu bagian yang penting dari proses sang manusia untuk bertumbuhkembang. Karena dalam berdemokrasi itu tak pelak membuat orang niscaya menjadi mengalami rasa sakit, terutama karena ia perlu menerima “yang berbeda” dari orang lain dengan segala rincian identitasnya yang lain . Perbedaan identitas dan keberadaan inilah yang akan menjadi sumber rasa sakit sekaligus ia memanggil warga bangsa yang berdemokrasi untuk belajar menerima, mendalami, dan mengatasinya.

Demokrasi yang dimaksud dalam hal ini adalah mendengar suara rakyat dan melaksanakannya. Demokrasi adalah datang ke pelelangan ikan, datang ke bantaran sungai, karena ingin mendengar suara rakyat. Setiap masalah harus diselesaikan dengan dialog, mengundang makan, ngopi, rokokan dan mengajak bicara. Uraian itu menggarisbawahi betapa pentingnya mendengarkan yang diperhadapkan dengan wabah ekspresi verbal. Lalu, apakah pernyataan kewicaraan tidak penting? Wicara juga penting.

Namun bila ditilik dari filosofi daun telinga kenapa ada dua. Ini karena telinga sebagai simbol bahwa mendengar harus lebih intensif dilakukan dibanding berbicara yang disimbolkan dengan satu mulut. Kita harusnya banyak mendengar daripada berbicara. Artinya kita disini (terutama pemerintah , anggota dewan terhomat , para penegak hukum ) harus banyak menyerap aspirasi. Dari aspirasi-aspirasi itulah kita berbicara. Sebagai corong atau pelayan rakyat, data-data dan keinginan rakyatlah yang menjadi bahan utama untuk berbicara. Selanjutnya itu jadi bahan untuk membuat keputusan, membuat undang-undang. Bukan sebaliknya, aspirasi oligarki saja yang lebih didengar saat membuat keputusan.

Jelasnya, para pemimpin bangsa  bukan hanya sebagai pencipta kebijakan dan pengawas pelaksanaannya. Mereka juga agen-agen kebudayaan dan peradaban. Mereka berkewajiban untuk mengagungkan masyarakat agar tidak mencipta hoaks dan fitnah verbal. Mereka harus berada di tengah tumbuh kembang kebudayaan dan peradaban. Mereka harus mendampingi warganya yang mengalami rasa sakit , tanpa melarikan diri darinya. Selanjutnya mereka juga harus mengajarkan warganya untuk bertabah mengalami penderitaan yang terjadi walau keberadaannya berbeda . Dan itu semua akan teratasi dengan cara mereka banyak belajar mendengarkan secara saksama , tentunya dengan niat yang kuat untuk menjadikan bangsa ini lebih baik lagi

*) Dokter RSUD Ulin Banjarmasin

Bagikan:

Iklan