oleh: Pribakti B *)

 Untuk kesekian kalinya, tanggal 1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia. Penetapan tanggal ini diawali dengan terselenggaranya pertemuan para menteri kesehatan dan pencegahan AIDS seluruh dunia pada bulan Januari tahun 1988. Pertemuan ini dimaksudkan untuk memperkuat jaringan guna pencegahan penyebaran lebih luas dan untuk mengembangkan sikap toleransi. Sikap untuk bersatu melawan penyebaran AIDS ini memang tidak bisa ditawar lagi, karena penyakit AIDS ini terus menebar ancaman.

Kementerian Kesehatan baru saja mengeluarkan data terbaru orang dengan HIV di Indonesia. Hingga bulan Juni tahun 2022, total pengidap infeksi HIV yang tersebar di seluruh provinsi mencapai 519.158 orang. Infeksi merupakan salah satu penyakit yang harus diwaspadai. Penyakit ini menyerang sistem imun tubuh manusia dan hingga saat ini belum ada obat yang bisa menyembuhkannya secara menyeluruh. Infeksi HIV juga merupakan penyakit menular. Penularan umumnya terjadi melalui hubungan seksual tanpa pengaman, penggunaan jarum suntik secara bergantian, dan proses persalinan serta menyusui dari ibu ke anak.

Persoalannya, apakah Indonesia telah siap menghadapi epidemi HIV/AIDS? Seperti diketahui saat ini seluruh elemen masyarakat banyak yang mengupayakan pencegahan penularan virus Corona. Siap atau tidak siap bagaimanapun nampaknya kita perlu melihat hal lain yang sampai saat ini banyak orang-orang yang belum bisa berdamai atas hal ini. Hal tersebut juga mengenai penerimaan keberadaan seseorang dengan Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) di lingkungan sekitarnya.

Kondisinya hampir sama dengan yang dihadapi saat ini , dimana masyarakat belum bisa menerima orang yang positif terkena virus Corona. Sama halnya dengan virus HIV, beberapa komunitas masyarakat yang sampai saat ini masih belum bisa menerima keberadaan ODHA di lingkungan sosialnya. Kondisi pandemi Covid saat ini pun memunculkan diskriminasi terhadap orang yang positif terkena virus Corona. Tidak hanya diskriminasi pada PDP (Pasien Dalam Pantauan) virus Corona dan juga individu yang sudah positif Corona, melainkan diskriminasi tersebut juga melekat pada ODHA.

Ini karena masih sangat banyak stigma negatif dan diskriminasi dari masyarakat terhadap ODHA. Memang penting bagi ODHA untuk mengungkapkan statusnya, namun ODHA pun harus tetap bersikap selektif kepada siapa dia mengungkapkan statusnya sebagai ODHA di lingkungannya. Karena hal ini masih terbilang cukup tabu dan sangat dihindari oleh masyarakat yang masih belum memiliki pengetahuan dan wawasan mengenai HIV/AIDS.

Umumnya kasus-kasus mengenai diskriminasi kepada orang lain selalu terjadi dalam kehidupan manusia. Diskriminasi sendiri merupakan sebuah perlakuan yang berbeda yang ditujukan kepada orang lain atau pada kelompok tertentu. Jika diskriminasi tersebut mustahil untuk dimusnahkan di muka bumi ini, setidaknya masing-masing individu perlu memiliki kesadaran dan mampu meminimalisir tindakan tersebut.

Pada awalnya sebelum mempelajari mengenai HIV & AIDS, saya mungkin sama seperti Anda,  tidak mau berteman dengan ODHA. Saya memiliki perasaan takut, cemas, kuatir, dan bahkan mendiskriminasi ODHA. Namun dalam perjalanannya,  saya menyadari bahwa sikap dan perilaku saya ini adalah bentuk ketidakadilan pada orang lain. Lalu bagaimana agar Anda bisa menerima keberadaan ODHA? Mungkin hal-hal berikut ini yang harus Anda lakukan:

 Pertama, hal yang paling penting adalah kita harus membuka diri. Membuka diri dalam hal ini dengan cara mulai mencoba mengetahui apa itu infeksi HIV & AIDS. Di era digital seperti ini sudah banyak platfrom yang menyediakan informasi mengenai infeksi HIV & AIDS dan Anda  bisa melakukan riset akan hal itu. Jika Anda merasa tidak puas dengan hasil riset yang didapatkan, Anda bisa mengunjungi lembaga terkait yang berperan dalam kasus HIV & AIDS tersebut. Melalui riset yang telah dilakukan itulah, Anda bisa mengetahui mengenai bagaimana cara penularan HIV & AIDS. Kemudian juga mengetahui mana perilaku yang beresiko menularkan dan tidak menularkan. Dengan mengetahui hal tersebut, Anda akan percaya diri bahwa tidak ada sama sekali masalah bila kita hidup  berdampingan dengan ODHA.

Melakukan riset mengenai HIV & AIDS tidak hanya berfungsi untuk mengetahui penularan dan perilaku berresiko, tapi lebih dari itu. Anda akan mengetahui pembahasan mengenai edukasi seks yang aman, dan kesehatan alat reproduksi. Anda juga bisa mendapatkan pengetahuan kesehatan seksual agar tidak melakukan seks bebas, dan tidak terkena infeksi menular seksual lainnya. Bukankah tidak ada yang sia-sia dalam mencari sebuah ilmu pengetahuan?

Kedua, hal lain yang harus dilakukan yaitu  bersyukur terhadap diri sendiri. Percayalah pada kekuatan bersyukur karena dengan bersyukur maka Anda akan mendapatkan kebahagiaan, dan mampu membahagiakan orang lain. Bersyukur dalam hal ini adalah Anda beruntung hidup tidak bergantung pada obat yang harus diminum selama menjalani sisa hidup Anda . Sedangkan pada ODHA, sepanjang hidup mereka akan bergantung pada obat-obatan tersebut.

Sebagai ODHA, mereka tidak bisa berhenti mengkonsumsi obat, obat itu adalah ARV atau disebut dengan Antiretroviral. Tujuan utama pemberian ARV ini adalah untuk menekan jumlah virus (viral load), sehingga akan meningkatkan status imun pasien HIV dan mengurangi kematian akibat infeksi oportunistik (infeksi akibat virus yang terjadi pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah). Obat ARV selain sebagai antivirus juga berguna untuk mencegah penularan HIV kepada pasangan seksual, maupun penularan infeksi HIV dari ibu ke anaknya. Hingga pada akhirnya diharapkan dapat mengurangi jumlah kasus orang terinfeksi HIV baru .

Lazimnya sejak seseorang dinyatakan positif  HIV, maka sejak saat itu,  agar mereka mampu bertahan hidup adalah dengan mengkonsumsi ARV . Beruntung saat ini pemerintah sudah menyediakan obat ARV secara gratis yang bisa didapatkan di layanan kesehatan seperti puskesmas, maupun rumah sakit. Maka dari itu penting untuk bersyukur bahwa Anda dalam keadaan sehat tidak serta hidup tidak bergantung pada obat. Dengan demikian maka akan timbul rasa empati Anda dan mulai menghilangkan perilaku diskriminatif terhadap ODHA.

Ketiga, posisikan diri Anda berstatus sebagai ODHA. Lalu apa yang Anda rasakan? Bisa dipastikan Anda merasa sedih, terpuruk, tidak ada masa depan, merasa sendirian di dunia ini, rasanya benar-benar ingin menghilang dari semua orang. Kurang lebih hal itu yang juga dirasakan oleh ODHA. Jauh dari kata enak dan bebas. Bayangkan saja ketika Anda positif terinfeksi HIV, apa hal yang akan Anda lakukan pertama kali? Apa Anda akan merenung, marah pada diri sendiri, menyalahkan orang lain, atau menginstrospeksi diri?

Berat rasanya ketika mengetahui bahwa diri positif HIV. Ingin memberitahu keluarga pun sangat malu bahkan takut setengah mati, karena ada stigma yang melekat buruk pada orang dengan positif HIV&AIDS. Maka dari itu kita patut memberikan apresiasi pada ODHA yang sampai saat ini mampu berdamai dengan diri sendiri dan juga keadaan.

Untuk itu sesekali memang kita perlu memposisikan diri sebagai orang lain, dengan keadaan tertentu yang tidak kita inginkan. Hal ini dilakukan agar kita mampu menerima diri sendiri dan menerima keberadaan orang lain khususnya ODHA. Jika mampu memahami hal ini, maka Anda tidak akan berperilaku diskriminatif pada ODHA, atau bahkan pada hal yang lainnya.

Keempat, ikut prihatin terhadap persoalan gembar-gembor masalah kemanusiaan atau humanisme sering terjadi pada ODHA . Tapi apakah hal ini benar-benar dipahami dan berhasil direalisasikan? Sejatinya yang disebut humanisme lebih mengenai bagaimana seseorang manusia mampu memanusiakan manusia lainnya. Dalam artian melakukan segala sesuatu karena unsur kepentingan kemanusiaan. Dengan memberikan hak hidup yang sama, seperti tidak berperilaku diskriminatif, memberikan hak pekerjaan , hak pendidikan, ekonomi, berkarya dan hal lainnya sama seperti orang lain.

Dalam hal ini kita penting memiliki perilaku kemanusiaan, khususnya dalam mengatasi fenomena diskriminasi terhadap ODHA. Jika kita memiliki pemikiran bahwa ODHA merupakan manusia yang memiliki hak asasi , maka tidak benar kalau kita mendiskriminasi ODHA. Mulailah untuk menerima keberadaan ODHA di sekitar Anda, bertemanlah dan bersahabatlah dengan mereka. Berhentilah untuk memberikan stigma pada mereka, karena jika diminta untuk memilih, mereka juga tidak ingin berada dalam kondisi tersebut.

Pendek kata, usahakan kedepannya  kita semua mau dan mampu untuk sama-sama belajar untuk membuka diri dan menerima keberadaan ODHA. Hidup berdampingan dengan ODHA bukanlah sebuah masalah besar jika kita telah mengetahui apa itu HIV & AIDS. Dengan kita mengetahui secara komplit tentang HIV & AIDS termasuk pencegahannya maka hidup berdampingan dengan ODHA bukan sebuah masalah . Justru hal ini bisa dijadikan sebagai keberhasilan kita sebagai manusia yang mampu memanusiakan manusia. Untuk itu tetaplah ingat bahwa jauhi penyakitnya bukan orangnya. Selamat hari AIDS Sedunia, 1 Desember!

*) Dokter RSUD Ulin Banjarmasin

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *