infobanua.co.id
Beranda Opini Kebenaran itu Sederhana

Kebenaran itu Sederhana

Pribakti B

Oleh : Pribakti B

 

Kebenaran adalah persesuaian antara pengetahuan, bisa juga diartikan suatu pendapat atau perbuatan seseorang yang sesuai dengan (atau tidak ditolak oleh) orang lain dan tidak merugikan diri sendiri. Kebenaran adalah lawan dari kekeliruan yang merupakan objek dan pengetahuan tidak sesuai. Pertanyaan “apa itu kebenaran?” merupakan pertanyaan abadi bagi insan setiap zaman. Orang tidak pernah selesai mempermasalahkannya.

Dalam dunia politik begitu juga. Jika seseorang melihat suatu rezim politik yang berkuasa, maka dia akan mengukur kebenaran rezim politik tersebut berdasarkan referensi pengetahuan yang masuk dan mengendap di dalam pikirannya juga pengalaman hidup yang dia punya. Maka, tak heran jika dalam menilai suatu rezim politik ada yang pro dan ada yang kontra mengenai ‘kebenaran’ rezim tersebut.

“Kebenaran itu sederhana!” Ini bukan kata-kata saya melainkan kata Anand Krisna, seorang humanis spiritual, budayawan , penulis lebih dari 170 buku dan tinggal di Bali. Buku – buku yang ditulisnya banyak bertemakan budaya, kesehatan, pendidikan, perkembangan diri, dan lain sebagainya. Walaupun berdarah keturunan India, tetapi semangat kecintaannya terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sangatlah tinggi. Kepeduliannya itu dituangkan dalam sumbangan pikiran dan kerja keras kepada masyarakat Indonesia dalam membangun masyarakat yang berkebudayaan dan membentuk organisasi-organisasi yang peduli dalam berupaya membangun jiwa-jiwa manusia Indonesia lewat upaya-upaya pemberdayaan diri.

Menurut Anand Khrisna, tidak sulit menentukan siapakah pihak yang salah dan siapa yang benar. Tidak dibutuhkan kecerdasan tinggi untuk merasakan kebenaran. Kebenaran menjadi sulit ketika pihak – pihak lain campur tangan, termasuk hukum dan pasal-pasal. Maka muncullah cabang-cabang kebenaran lain yang membingungkan. Di antara banyak cabang itu ada tiga cabang  yang harus diwaspadai.

Pertama, benar menurut diri sendiri. Kedua, benar menurut banyak orang . Ketiga , benar menurut hukum. Ketiga kebenaran ini sungguh masih rawan bahaya. Bagaimana mau percaya kepada diri sendiri jika terhadap mutu diri sendiri pun kita ragu-ragu. Bagaimana kalau kita ternyata bodoh belaka. Bagaimana kalau kita tidak cuma bodoh, tetapi juga jahat. Sudah goblok, jahat pula. Bagaimana mungkin kebenaran versi si bodoh dan si jahat bisa dipercaya.

 

Pembenaran kedua, kebenaran versi orang banyak adalah juga kebenaran yang rawan pembengkokkan . Terutama ketika orang itu , meskipun banyak, tetapi berasal dari budaya gerombolan  dan gemar main keroyok. Kemenangan orang-orang ini pasti bukan karena kebenarannya, melainkan karena keroyokannya itu. Ada kebenaran yang dibenarkan karena beking , karena kekuasaan dan tekanan. Kebenaran berbasis ketakutan semacam ini pasti sulit disebut kebenaran.

 

Ketiga, kebenaran versi hukum. Ini juga rawan godaan terutama jika memang kebenaran ini berasal dari hukum yang tergoda, tergoda tekanan, tergoda uang , dan tergoda jual beli perkara. Apakah semua itu kenyataan asing bagi kita? Tidak. Dan hebatnya, untuk merasakan hukum yang ganjil ini, manusia tidak membutuhkan bukti-bukti nyata tetapi cukup dengan insting mereka. Jadi, insting itulah kata kuncinya. Untuk merasakan kebenaran, manusia cuma butuh insting. Manusia tak perlu menjadi ahli hukum, intelektual atau ahli meditasi. Tapi, kebenaran yang bisa dideteksi insting ini datang dari jenis yang keempat: bukan kebenaran diri sendiri, kebenaran orang banyak, kebenaran hukum, melainkan kebenaran itu sendiri.

 

Kebenaran jenis keempat itulah yang disebut oleh Anand Khrisna sebagai sederhana, tak butuh kecerdasan tinggi untuk merasakannya . Orang awam dan jenis orang-orang lugu pun sanggup dengan cepat merasakannya. Karena inilah kebenaran yang betapa pun bagus bungkusnya, jika isinya tak lebih dari kebohongan, akan muncul lewat gerak mata, lewat bahasa tubuh, dan lewat alasan yang aneh-aneh. Karena keanehannya, sering menjadi terlalu besar , terlalu indah dan terlalu mengada-ada.

 

Itulah kenapa siapa bermulut manis, pasti malah menimbulkan rasa curiga. Itulah kenapa orang yang sok akrab, malah menyebalkan. Itulah kenapa orang yang hendak menipu malah begitu sopan tindak tanduknya. Itulah kenapa orang yang ngotot minta dipercayai, adalah orang yang punya bakat besar mengkhianati. Itulah kenapa orang yang tercemar, bisa menggugat balik pembuka aibnya. Itulah kenapa kebenaran itu dianggap sebagai barang yang mudah dan sederhana, karena apa pun bungkusnya, selalu tampak begitu jelasnya.

Dokter RSUD Ulin Banjarmasin

 

Bagikan:

Iklan