infobanua.co.id
Beranda Opini Politik Salah Paham

Politik Salah Paham

Pribakti B

Oleh: Pribakti B

 

 Diakui atau tidak, sejarah politik Indonesia lebih banyak diwarnai oleh salah paham atau paham yang salah. Dan kesalahan itu dimulai dari cara pandang kita melihat politik itu sendiri. Karena itu , efek kesalahan tersebut menjadi sangat mendasar. Pada masa Orde Lama, politik ditetapkan sebagai “panglima”. Politik menjadi komando yang mempengaruhi segala dimensi kehidupan. Mereka yang tidak ikut dalam arusnya harus menyingkir atau disingkirkan.

Politik sebagai panglima juga berlaku dalam bidang kehidupan lain, seperti kebudayaan dan kesenian. Disini tak ada tempat untuk musik ngak-ngik-ngok atau musik Barat lainnya yang dianggap tidak sesuai dengan garis politik – kebudayaan pemerintah. Pendek kata , politik sebagai panglima harus merasuk dan merambah ke semua dimensi kehidupan. Bahkan urusan percintaan pun ditentukan oleh politik.

Alhasil , pada zaman Orde Lama banyak terjadi patah hati dan putus cinta karena politik. Sebabnya? Ternyata sang calon mertua partainya lain. Kalau tak percaya , tanyakan saja kepada kakek atau nenek Anda yang pernah mengalami zaman itu. Kalau ditulis dalam novel pendek, mungkin cukup banyak cerita ala Siti Nurbayah yang dapat dikumpulkan tentang cinta yang putus karena perbedaan garis politik.

Singkatnya, politik bukan lagi hanya satu bagian dalam kehidupan, tetapi sudah merasuk dan mengatur aspek-aspek pribadi, seperti selera musik dan pasangan hidup , yang normalnya tidak masuk dalam wilayah kekuasaan. Situasi seperti itu berubah dengan tumbangnya Orde Lama dan berkuasanya Orde Baru. Zaman bergerak, paham dan pengertian tentang politik pun berubah bersamanya.

Jargon “ politik adalah panglima” tidak terdengar lagi. Sebagai gantinya muncul pandangan yang melihat politik seperti hantu. Politik adalah sesuatu yang harus dihindari, Jangan dekat-dekat dengan politik kalau ingin selamat. Karena itu di zaman Orde Baru , kampus diadakan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) untuk “membebaskan” mahasiswa dan pemuda terpelajar dari pengaruh politik. Untuk itu, ada pula Badan Koordinasi Kegiatan (BKK) mahasiswa untuk mengontrol kegiatan kemahasiswaan agar tidak tercemar oleh kotornya tangan-tangan politik.

Kalau mengingat semua itu, semestinya kita patut bersyukur zaman Orde Lama dan Orde Baru sudah lewat. Kita berharap jarum jam tidak akan berputar balik. Sekarang kita punya kesempatan untuk meluruskan salah paham dan paham yang salah tentang politik. Dalam era demokrasi  ini jangan lagi kita memandang politik sebagai panglima atau sebagai hantu. Sudah saatnya kita menganggap politik sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja.

Dalam demokrasi, politik hanyalah satu dimensi kehidupan warga negara di tengah begitu banyak dimensi kehidupan lainnya. Ada dimensi ekonomi sosial, budaya. Ada dimensi sportivitas, dimensi spiritual, bahkan ada pula dimensi romatiknya, seperti cinta dan pilihan pasangan hidup . Masing-masing warga negara bebas menentukan pilihan kehidupan, ekspresi kemerdekaan dan pencarian kebahagiaan masing-masing.

Dalam paham ini terbuka pilihan bagi semua orang yang ingin berkecimpung dalam dunia politik , termasuk menajadi kandidat  dalam pemilu, silakan saja. Bagi yang ingin terlibat dalam politik tetapi hanya sebatas mendukungnya dan memilih, silakan pula. Mau apatis , tidak mau terlibat dalam urusan politik, bahkan tidak ingin memilih. Jadi sejauh tidak mencelakakan atau mengancam hak orang lain, lakukan apa yang Anda anggap terbaik buat Anda. Anda hidup dengan cara dan pilihan Anda sendiri dan biarkan orang lain hidup dengan cara dan pilihan mereka masing-masing.

Sekali lagi , politik hanyalah salah satu kehidupan. Yang fokus berdagang, silakan saja. Yang ingin fokus pekerja profesional, monggo saja. Tentara, dokter, seniman, olahragawan dan sebagainya: semua ini adalah pilihan hidup yang sama sahnya. Begitu pula, yang mau kawin, ya kawin saja, asal suka sama suka dan tidak menabrak aturan serta etika kepantasan yang hidup dalam masyarakat.

Tak perlu kita bertengkar hanya karena politik dan pilihan hidup. Pilih mana yang suka. Partai atau kandidat: tak boleh ada paksaan di dalam politik. Dalam demokrasi berlaku satu prinsip bagimu partaimu, bagiku partaiku: bagimu pilihanmu, bagiku pilihanku. Kita bisa berbeda  partai, tetapi kita tetap berkawan dan ngopi bareng di cafe.

Warna berbeda-beda, tapi persahabatan jalan terus. Hari ini pilihan kita mungkin berbeda, Tetapi pada pemilu depan pilihan kita mungkin saja sama. Sebaliknya, hari ini pilihan kita sama, kali depan mungkin sudah berbeda . Maka, kita tak perlu setel kenceng urusan politik. Lebih baik kita memandang politik sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja. Mudah-mudahan dengan begitu kita bisa hidup lebih berbahagia.

Sebab politik itu setidaknya berwajah tiga. Satu wajah tampak penuh senyum karena politik dijadikan instrumen untuk pengabdian kepada rakyat. Tampak demokratis, aspiratif, dialogis.Wajah lain terlihat sangar karena politik dijadikan alat untuk menindas rakyat. Bengis, kejam, tiranik, otoriter. Dan , satu wajah lagi tampak culas karena seolah-olah politik sebagai sarana kepentingan rakyat, tapi sesungguhnya tempat memuaskan nafsu kuasa pribadi atau kelompok. Palsu, pura-pura, manipulatif dan munafik. Kira-kira yang mana wajah politik di negeri ini?

 

Dokter RSUD Ulin Banjarmasin

Bagikan:

Iklan