infobanua.co.id
Beranda Blitar Angkutan Umum di Kota Blitar Seolah Mati Suri.

Angkutan Umum di Kota Blitar Seolah Mati Suri.

Blitar – Infobanua:
Eksistensi angkutan umum di Kota Blitar, terancam tutup karena menjamurnya angkutan online, sehingga seolah mati suri.

Memang masih hilir mudik angkutan umum menjadi pemandangan umum setiap hari di depan Pasar Legi, pasar tradisional terbesar di Kota Blitar, yang juga sebagai tempat mangkal para sopir angkutan umum, untuk menanti calon penumpang.

Biasanya ada tiga hingga empat angkutan yang mangkal menunggu calon penumpang.

Rupanya tidak sekadar menunggu di dalam kendaraan, sopir-pun harus keluar untuk mencari calon penumpang. Namun hanya beberapa orang saja yang tertarik untuk naik, meski demikian angkutan tetap harus jalan.

Kondisi inilah yang secara tidak disadari membuat para pengemudi angkutan umum mulai kehilangan penumpang.

Rupanya perkembangan teknologi yang pesat membuat trend angkutan umum bergeser ke sistem online. Hal tersebut diakui oleh sejumlah sopir angkutan umum hingga berimbas pada penghasilannya.

Hampir sebagian besar warga masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi.

Bahkan, angkutan kota yang dikelola Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar, saat ini juga terpaksa dialihfungsikan menjadi angkutan sekolah gratis, terutama bagi penyandang disabilitas.

Salah satu pengemudi umum yang enggan disebut namanya mengaku, peminat angkutan umum sekarang sudah turun drastis.

Indikasinya, jumlah penumpang yang naik angkutan umum berkurang selama beberapa tahun terakhir.

Kondisi tersebut juga ditandai dengan kehadiran angkutan online, ojek online (ojol) yang semakin menjamur.

Dampaknya volume penumpang angkutan umum konvensional turun drastis. Pendapatan sopir-pun ikut menurun.

“Sekarang ada Grab dan ojek online lainnya. Kondisi ini berimbas pada pendapatan kami yang semakin berkurang,” katanya kepada awak media, ketika menunggu calon penumpang di depan Pasar Legi, Selasa 01-08-2023.

Menurut dia, mereka dapat memaklumi dengan kondisi tersebut. Tapi yang menjadi permasalahannya adalah ketika harus memberikan setoran secara rutin kepada pemilik kendaraan. Bahkan karena sepinya penumpang, terkadang tidak memberikan setoran.

“Sekarang yang naik hanya para pedagang pasar, itu-pun untuk pedagang yang minta diantarkan,” jlentrehnya.

Hal senada juga disampaikan oleh temannya sesama sopir angkutan umum lainnya, yang sama-sama ngetem atau parkir di depan Pasar Legi.

Angkutan umumnya melayani rute Blitar–Lodoyo atau Sutojayan pp, melihat situasi dan kondisi seperti sekarang nasib angkutan umum semakin terpojok.

“Sekarang tambah babis penumpanya, tidak ada yang mau naik angkutan umum,” keluhnya.

Menurutnya, dirinya sekarang lebih memilih untuk menunggu orderan dari para pedagang yang minta diantarkan untuk berbelanja barang ke Kota Blitar.

Itu pun hanya pelanggan yang sudah mengenalnya sejak lama. Sebelum ojek online merebak di mana-mana, penumpang yang menggunakan jasa angkutan umum bisa mencapai puluhan orang dalam satu hari.

“Tapi saat ini rata-rata cuma dua hingga tiga penumpang saja, kalau dahulu juga ada anak sekolah, tapi sekarang anak sekolah jarang, banyak yang bawa sepeda motor sendiri atau di antar oleh orang tuanya,” pungkasnya. (Eko.B).

KETERANGAN FOTO:
Salah satu sopir angkutan umum, ketika menunggu calon penumpang di depan Pasar Legi.

Bagikan:

Iklan